Minggu, 3 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

UIN SAIZU Purwokerto

Hari Buruh dan Hardiknas: Saat Pendidikan Dipertanyakan sebagai Ruang Emansipasi

Refleksi Hari Buruh dan Hardiknas: pendidikan dinilai makin tunduk pada logika pasar dan industri kerja.

Tayang:
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
IST
Prof Dr Kholid Mawardi MHum, Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Prof KH Saifuddin Zuhri Purwokerto 

Ketika universitas hanya menjadi perpanjangan tangan industri, maka ia kehilangan peran strategisnya sebagai penjaga nurani sosial. Namun demikian, kritik terhadap orientasi pasar dalam pendidikan tidak berarti menolak relevansi kerja. Pendidikan memang tidak bisa sepenuhnya dilepaskan dari realitas ekonomi.

Tantangannya adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara kebutuhan praktis dan nilai-nilai humanistik. Pendidikan harus mampu mempersiapkan peserta didik untuk bekerja, tetapi juga untuk berpikir, bersikap kritis, dan berkontribusi pada masyarakat secara lebih luas.

Dalam konteks Indonesia, tantangan ini menjadi semakin kompleks. Di satu sisi, terdapat kebutuhan nyata untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja agar mampu bersaing secara global. Di sisi lain, terdapat risiko besar ketika pendidikan terlalu tunduk pada logika pasar jangka pendek.

Apa yang dibutuhkan industri hari ini belum tentu relevan di masa depan. Sementara itu, kemampuan berpikir kritis, etika, dan adaptasi justru lebih tahan lama dan ini sering kali dibentuk oleh bidang-bidang yang dianggap “tidak pasar”.

Dengan demikian, peringatan Hari Buruh dan Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi momentum refleksi bersama. Keduanya mengingatkan bahwa manusia bukan sekadar alat produksi, melainkan subjek yang memiliki martabat.

Pendidikan tidak boleh direduksi menjadi pabrik tenaga kerja, sebagaimana buruh tidak boleh diperlakukan sebagai mesin. Di antara keduanya, terdapat tanggung jawab moral untuk menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kemanusiaan.

Jika sekolah benar-benar ingin tetap menjadi ruang emansipasi, maka ia harus berani menjaga jarak kritis terhadap pasar. Ia harus mampu mengatakan bahwa tidak semua hal dapat diukur dengan serapan kerja, dan tidak semua nilai dapat diterjemahkan dalam angka ekonomi. 

Pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang tidak hanya menyiapkan manusia untuk bekerja, tetapi juga untuk memahami, mengkritik, dan jika perlu mengubah dunia kerja itu sendiri.

Pada akhirnya, pilihan ada di tangan kita: apakah kita ingin pendidikan yang hanya menghasilkan pekerja, atau pendidikan yang melahirkan manusia? Dua hari peringatan ini telah memberi isyarat. Tinggal bagaimana kita membacanya sebagai rutinitas seremonial, atau sebagai panggilan untuk mengembalikan makna pendidikan dalam kehidupan bersama. (***)

Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved