Kamis, 21 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Opini

Paradoks Kurs: Membalik Pelemahan Rupiah Menjadi Lompatan Ekonomi RI

Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS per 18 Mei 2026 yang menyentuh angka Rp 17.624,00 menunjukkan tren pelemahan

Tayang:
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
IST
Imam Hasan, Dosen Program Studi D3 Akuntansi, Universitas Harkat Negeri Tegal 

Oleh: Imam Hasan, Dosen D3 Akuntansi Universitas Harkat Negeri

PERGERAKAN nilai tukar rupiah terhadap dolar AS per 18 Mei 2026 yang menyentuh angka Rp 17.624,00 menunjukkan tren pelemahan yang kian mengkhawatirkan dalam beberapa waktu terakhir. Fenomena ini tidak boleh dipandang sebelah mata.

Pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) dituntut untuk segera mengambil langkah mitigasi yang taktis dan bijak. BI perlu mempertimbangkan urgensi kebijakan moneter kontraktif demi menstabilkan nilai tukar, sementara dari sisi fiskal, pemerintah harus merespons dengan memperketat pengawasan impor serta memperkuat gerakan konsumsi produk domestik guna menekan defisit transaksi berjalan.

Namun, jika kita bersedia menanggalkan sudut pandang konvensional dan melihat fenomena ini melalui kacamata ekonomi makro yang lain, penguatan dolar sebenarnya menyimpan paradoks: ia sedang "memaksa" struktur ekonomi kita untuk tumbuh dan berekspansi. Bagaimana logika ini bekerja?

Dalam teori perdagangan internasional, depresiasi mata uang domestik secara otomatis membuat harga produk ekspor kita menjadi lebih kompetitif di pasar global. Momentum inilah yang harus dimanfaatkan oleh entitas usaha nasional untuk memacu volume ekspor.

Tugas pemerintah adalah memfasilitasi momentum ini melalui debirokrasi proses ekspor, pembukaan akses pasar internasional baru, hingga pemberian insentif ekstrem seperti kebijakan nihil pajak (zero tax) bagi komoditas ekspor strategis.

Sejarah ekonomi dunia telah membuktikan efektivitas strategi ini. Kita dapat merefleksikan keberhasilan Jepang beberapa dekade silam. Kala itu, Bank of Japan secara sadar membiarkan nilai tukar Yen melemah (undervalued) demi menggeliatkan ekspansi industri otomotif dan manufaktur mereka ke pasar global. Hasilnya, produk Jepang merajai pasar internasional dan menjadi motor utama lompatan ekonomi (economic leap) negara tersebut.

Kendati demikian, tantangan struktural terbesar Indonesia hari ini adalah tingginya ketergantungan terhadap barang-barang impor, baik barang konsumsi maupun bahan baku penolong. Akibatnya, setiap kenaikan kurs dolar akan langsung mentransmisikan inflasi ke dalam negeri (imported inflation).

Oleh karena itu, jargon "Beli Produk Dalam Negeri" tidak boleh lagi sekadar menjadi slogan politik yang usang. Di tengah volatilitas kurs saat ini, implementasi nyata dari gerakan tersebut adalah instrumen krusial untuk menekan permintaan (demand) terhadap tata mata uang asing.

Dalam khazanah ekonomi tradisional, formula mengendalikan nilai dolar sebenarnya sederhana: kurangi permintaan terhadap dolar dan tingkatkan pasokannya di dalam negeri. Di tengah situasi geopolitik global yang penuh ketidakpastian akibat eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran, ketahanan ekonomi nasional diuji. Kebijakan makro yang agresif tidak akan berjalan optimal tanpa adanya kesadaran mikro di tingkat masyarakat.

Perilaku ekonomi mikro yang bijak, dengan menata konsumsi maupun meningkatkan rasio tabungan adalah benteng pertahanan terakhir kita. Dolar yang meroket memang sebuah ancaman, namun ia sekaligus menjadi peluang emas bagi lompatan ekonomi, jika kita berani berdaulat secara ekonomi dari hulu hingga ke hilir. (*)

 

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved