Kamis, 21 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

UIN Walisongo Semarang

Kritisi Prospek Pendidik VUCA dan BANI, PGMI UIN Walisongo Bedah Potensi Karir Guru

Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Walisongo Semarang

Tayang:
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
IST
HMJ Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Walisongo Semarang sukses menggelar Seminar Karier Pendidikan bertajuk “Merancang Masa Depan Gemilang Melalui Karier di Dunia Pendidikan”. Acara yang berlangsung di Gedung Auditorium 1 Kampus 1 UIN Walisongo pada Senin (18/5/2026) 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Walisongo Semarang sukses menggelar Seminar Karier Pendidikan bertajuk “Merancang Masa Depan Gemilang Melalui Karier di Dunia Pendidikan”.

Acara yang berlangsung di Gedung Auditorium 1 Kampus 1 UIN Walisongo pada Senin (18/5/2026) ini dihadiri oleh ratusan mahasiswa yang bersiap menata masa depan di tengah hantaman badai disrupsi global.

Seminar ini bukan sekadar ajang motivasi normatif, melainkan sebuah refleksi kritis terhadap kesiapan calon guru madrasah dalam menghadapi realitas dunia kerja baru yang tidak menentu.

Pembahasan utama berfokus pada bagaimana profesi pendidik harus bertransformasi agar tidak tergilas oleh kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan perubahan psikologis generasi z serta alpha.

Hadir sebagai salah satu pembicara, Hamidulloh Ibda, alumni PGMI UIN Walisongo Semarang yang juga Rektor INISNU Temanggung, mengupas tuntas tantangan berat yang dihadapi dunia pendidikan saat ini.

Menurutnya, dunia sedang berada di fase VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) yang kini bergeser semakin ekstrem menjadi era BANI (Brittle, Anxious, Non-linear, Incomprehensible).

“Dunia pendidikan kita saat ini rapuh, memicu kecemasan, tidak linier, dan seringkali sulit dipahami. Jika calon guru dari PGMI UIN Walisongo masih menggunakan metode ceramah konvensional tanpa menyentuh aspek berpikir komputasional (computational thinking) dan literasi digital, maka mereka sedang mempersiapkan diri untuk menjadi pengangguran intelektual,” kritik Ibda secara tajam dalam paparannya.

Ia menambahkan, kurikulum sekolah saat ini menuntut penguasaan Analisis Data dan Algoritma Pemrograman dasar sejak tingkat sekolah dasar.

Oleh karena itu, peran pendidik bukan lagi sekadar mentransfer materi keilmuan yang dengan mudah bisa dicari di Google, melainkan sebagai desainer peradaban dan fasilitator karakter yang tidak bisa digantikan oleh robot.

Menghidupkan Kelas dengan Karya: Pendidik Harus Jadi Kreator Konten

Sudut pandang kritis sekaligus solutif juga dipaparkan oleh Ilining Uswatun Khasanah, Duta Teknologi Jawa Tengah 2024 yang juga berprofesi sebagai guru matematika di SMP Negeri 5 Kudus.

Ia menyoroti fenomena banyaknya mahasiswa keguruan yang mengalami kecemasan karir karena merasa ruang kelas konvensional terlalu sempit dan kurang menjanjikan secara finansial.

Ilin mendobrak pola pikir (mindset) lama tersebut dengan menunjukkan potensi karir baru: Guru Kreatif berbasis Konten Digital.

Di era layar, ruang kelas tidak lagi dibatasi oleh empat dinding sekolah.

Layar ponsel pintar harus diubah menjadi ruang belajar baru yang interaktif melalui pemanfaatan platform digital seperti TikTok, YouTube, dan Instagram.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved