Selasa, 26 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Universitas Semarang

Mahasiswa Ilkom USM Gelar Kampanye Strategis Bullying Bukan Bercanda

mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi USM menginisiasi kampanye sosial bertajuk “Bullying Bukan Bercanda”

Tayang:
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
IST
Foto bersama Mahasiswa Ilkom Universitas Semarang pasca Kampanye Strategis Bullying Bukan Bercanda 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Sebagai bentuk respons terhadap meningkatnya fenomena perundungan (bullying) yang semakin kompleks di lingkungan sosial, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi menginisiasi kampanye sosial bertajuk “Bullying Bukan Bercanda”. Kegiatan ini dilaksanakan di Pos PAUD Ceria Bandarharjo pada Sabtu, 23 Mei 2026, pukul 14.00–16.00 WIB.

Kampanye yang menyasar anak-anak usia 7–12 tahun ini digelar berkolaborasi dengan Komunitas SULBI (Komunitas Anak Luar Biasa).

Langkah kolaboratif ini diambil sebagai upaya nyata untuk membangun pemahaman sejak dini mengenai pentingnya sikap saling menghargai dan menghormati perbedaan.

Ketua Pelaksana Kegiatan, Averil Mabelimiatilda, memimpin jalannya program ini bersama 11 anggota mahasiswa Ilmu Komunikasi lainnya.

Melalui narasi edukatif bertema “Bullying Bukan Bercanda, Semua Berhak Dihargai,” tim mahasiswa berupaya memberikan edukasi dasar terkait interaksi sosial yang sehat, kesadaran gender, serta penghargaan terhadap sesama tanpa memandang latar belakang maupun kondisi fisik.

Program ini juga bertujuan mendekonstruksi anggapan bahwa tindakan mengejek, merendahkan, atau mengintimidasi merupakan hal lumrah dalam pergaulan.

Dosen pengampu kegiatan, Dr. Yuliyanto Budi Setiawan, S.Sos., M.Si., memberikan apresiasi serta dukungan penuh terhadap inisiasi yang dilakukan oleh para mahasiswa ini.

“Melalui kegiatan ini, saya berharap adik-adik peserta dapat memperoleh pemahaman baru tentang pentingnya saling menghargai, menghindari bullying, dan memahami perubahan diri secara positif, semoga kegiatan seperti ini bisa kami kembangkan lebih masif dan memberikan dampak besar untuk masyarakat,” ujarnya.

Dalam perspektif ilmu komunikasi, fenomena bullying tidak sekadar dilihat sebagai tindakan agresif fisik, melainkan sebagai kegagalan dalam proses transaksional pesan yang sehat.

Di tengah arus globalisasi dan digitalisasi, bentuk perundungan bertransformasi menjadi lebih subtil, sering kali menyasar aspek identitas, gender, dan status minoritas.

Ketidakhadiran empati dalam komunikator sosial menyebabkan distorsi pesan, di mana 'bercanda' (joking) kerap digunakan sebagai mekanisme pertahanan untuk melegitimasi tindakan penindasan simbolik.

Kampanye ini juga dilatarbelakangi oleh maraknya kasus perundungan di kalangan remaja yang dipicu oleh rendahnya pemahaman mengenai seks dan gender dasar.

Minimnya edukasi terkait perbedaan biologis dan identitas diri kerap memunculkan ejekan fisik hingga stereotip gender.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa menegaskan bahwa edukasi tersebut bukanlah hal tabu, melainkan pengetahuan krusial agar stigma terhadap penampilan fisik maupun ekspresi diri dapat diminimalkan sejak dini.

Hadir sebagai narasumber utama dari PKBI Jawa Tengah, Rei Hapsari Oktaviana dan Syifa Hanna Maulina. Mereka menyampaikan bahwa stereotip gender dan kebiasaan menilai seseorang dari fisik masih menjadi faktor utama bullying.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved