Universitas Semarang
Mahasiswa Ilkom USM Gelar Kampanye Strategis Bullying Bukan Bercanda
mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi USM menginisiasi kampanye sosial bertajuk “Bullying Bukan Bercanda”
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Sebagai bentuk respons terhadap meningkatnya fenomena perundungan (bullying) yang semakin kompleks di lingkungan sosial, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi menginisiasi kampanye sosial bertajuk “Bullying Bukan Bercanda”. Kegiatan ini dilaksanakan di Pos PAUD Ceria Bandarharjo pada Sabtu, 23 Mei 2026, pukul 14.00–16.00 WIB.
Kampanye yang menyasar anak-anak usia 7–12 tahun ini digelar berkolaborasi dengan Komunitas SULBI (Komunitas Anak Luar Biasa).
Langkah kolaboratif ini diambil sebagai upaya nyata untuk membangun pemahaman sejak dini mengenai pentingnya sikap saling menghargai dan menghormati perbedaan.
Ketua Pelaksana Kegiatan, Averil Mabelimiatilda, memimpin jalannya program ini bersama 11 anggota mahasiswa Ilmu Komunikasi lainnya.
Melalui narasi edukatif bertema “Bullying Bukan Bercanda, Semua Berhak Dihargai,” tim mahasiswa berupaya memberikan edukasi dasar terkait interaksi sosial yang sehat, kesadaran gender, serta penghargaan terhadap sesama tanpa memandang latar belakang maupun kondisi fisik.
Program ini juga bertujuan mendekonstruksi anggapan bahwa tindakan mengejek, merendahkan, atau mengintimidasi merupakan hal lumrah dalam pergaulan.
Dosen pengampu kegiatan, Dr. Yuliyanto Budi Setiawan, S.Sos., M.Si., memberikan apresiasi serta dukungan penuh terhadap inisiasi yang dilakukan oleh para mahasiswa ini.
“Melalui kegiatan ini, saya berharap adik-adik peserta dapat memperoleh pemahaman baru tentang pentingnya saling menghargai, menghindari bullying, dan memahami perubahan diri secara positif, semoga kegiatan seperti ini bisa kami kembangkan lebih masif dan memberikan dampak besar untuk masyarakat,” ujarnya.
Dalam perspektif ilmu komunikasi, fenomena bullying tidak sekadar dilihat sebagai tindakan agresif fisik, melainkan sebagai kegagalan dalam proses transaksional pesan yang sehat.
Di tengah arus globalisasi dan digitalisasi, bentuk perundungan bertransformasi menjadi lebih subtil, sering kali menyasar aspek identitas, gender, dan status minoritas.
Ketidakhadiran empati dalam komunikator sosial menyebabkan distorsi pesan, di mana 'bercanda' (joking) kerap digunakan sebagai mekanisme pertahanan untuk melegitimasi tindakan penindasan simbolik.
Kampanye ini juga dilatarbelakangi oleh maraknya kasus perundungan di kalangan remaja yang dipicu oleh rendahnya pemahaman mengenai seks dan gender dasar.
Minimnya edukasi terkait perbedaan biologis dan identitas diri kerap memunculkan ejekan fisik hingga stereotip gender.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa menegaskan bahwa edukasi tersebut bukanlah hal tabu, melainkan pengetahuan krusial agar stigma terhadap penampilan fisik maupun ekspresi diri dapat diminimalkan sejak dini.
Hadir sebagai narasumber utama dari PKBI Jawa Tengah, Rei Hapsari Oktaviana dan Syifa Hanna Maulina. Mereka menyampaikan bahwa stereotip gender dan kebiasaan menilai seseorang dari fisik masih menjadi faktor utama bullying.
| Tim ST22 Sujama USM Raih Juara 1 Lomba Jembatan Balsa Petra Civil Expo 2026 |
|
|---|
| Mahasiswa Ilmu Komunikasi USM Gelar Kampanye Pelecehan Tak Kenal Gender |
|
|---|
| Universitas Semarang Akan Gelar Lomba Panahan Tingkat Nasional |
|
|---|
| Gelar Wisuda Ke-76 USM Luluskan 1.267 Mahasiswa dari Program Diploma, Sarjana dan Magister |
|
|---|
| Kembangkan Framework Blockchain dalam Daging Segar Halal, Dosen FTIK USM Raih Gelar Doktor |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260525_bullyingbukanbercanda.jpg)