Kamis, 28 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

UIN Walisongo Semarang

Mita Putri Apriliani dari Tata Boga Papua Barat Jadi Wisudawan Terbaik Moderasi di UIN Walisongo

Perjalanan akademik sering kali tidak berjalan lurus. Ada yang dimulai dari keterbatasan, ada pula yang dibangun

Tayang:
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
IST
Mita Putri Apriliani, wisudawan terbaik dari Program Studi Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Perjalanan akademik sering kali tidak berjalan lurus. Ada yang dimulai dari keterbatasan, ada pula yang dibangun dari keberanian keluar dari zona nyaman.

Kisah itu tercermin pada sosok Mita Putri Apriliani, wisudawan terbaik dari Program Studi Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang pada Wisuda Periode Mei 2026 yang digelar Sabtu (23/5/2026) di Auditorium II Kampus III Gedung Tgk Ismail Yaqub.

Perempuan yang akrab disapa Mita ini membuktikan bahwa latar belakang bukanlah batas untuk berprestasi.

Berasal dari SMK jurusan Tata Boga, ia harus memulai langkah baru di dunia akademik yang sama sekali berbeda ketika memasuki Program Studi Bimbingan Penyuluhan Islam.

“Sejak awal sebenarnya saya punya mimpi menjadi wisudawan terbaik. Tapi saya sadar harus belajar dari nol, beradaptasi dengan konsep-konsep keislaman, konseling, dan sosial yang sangat berbeda dengan latar belakang saya,” ungkap Mita.

Tak heran, ketika namanya diumumkan sebagai wisudawan terbaik, perasaannya bercampur aduk.

“Harus jujur, rasanya haru, tidak menyangka, dan sangat bersyukur. Semua proses panjang itu seperti terbayarkan,” tuturnya.

Bagi Mita, pencapaian ini bukan sekadar angka atau capaian IPK. Lebih dari itu, gelar wisudawan terbaik menjadi simbol perjuangan dan konsistensi.

“Ini bukti bahwa keterbatasan latar belakang bukan penghalang untuk berkembang. Setiap usaha, sekecil apa pun, jika dilakukan dengan sungguh-sungguh dan istiqamah, akan membuahkan hasil,” katanya.

Salah satu sisi menarik perjalanan akademik Mita terletak pada penelitian skripsinya yang mengangkat tema budaya dan moderasi beragama di wilayah timur Indonesia.

Melalui skripsi berjudul “Implementasi Nilai Moderasi Beragama pada Tradisi Satu Tungku Tiga Batu dalam Konseling Keluarga Islam di Kampung Patipi Pulau, Fakfak, Papua Barat”, Mita menyoroti bagaimana masyarakat hidup harmonis di tengah keberagaman keyakinan.

Ia tertarik pada filosofi “Satu Tungku Tiga Batu”, simbol persatuan yang menggambarkan bahwa perbedaan tidak menjadi alasan untuk terpecah, tetapi justru saling menopang satu sama lain.

“Di Fakfak, perbedaan agama bahkan bisa hadir dalam satu keluarga, tetapi hubungan tetap hangat dan harmonis. Saya melihat moderasi beragama bukan sekadar teori, tetapi benar-benar hidup di masyarakat,” jelasnya.

Menurut Mita, penelitian itu membuka pemahaman baru bahwa konseling keluarga Islam dapat berjalan lebih kontekstual melalui pendekatan budaya lokal.

“Nilai Islam seperti keadilan, keseimbangan, dan toleransi ternyata hidup berdampingan dengan budaya masyarakat. Di situlah saya melihat bahwa moderasi beragama bukan wacana, tetapi nyata,” ujarnya.

Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved