Kamis, 28 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

UIN Walisongo Semarang

Mita Putri Apriliani dari Tata Boga Papua Barat Jadi Wisudawan Terbaik Moderasi di UIN Walisongo

Perjalanan akademik sering kali tidak berjalan lurus. Ada yang dimulai dari keterbatasan, ada pula yang dibangun

Tayang:
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
IST
Mita Putri Apriliani, wisudawan terbaik dari Program Studi Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. 

Kesibukan akademik tidak membuat Mita menjauh dari aktivitas organisasi dan pengembangan diri. Selama kuliah, ia aktif di HMJ BPI, Radio Gema Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, komunitas relawan kesejahteraan sosial, hingga menjadi penerima Beasiswa Bank Indonesia.

Baginya, organisasi bukan penghambat prestasi akademik, melainkan ruang belajar untuk melatih kepemimpinan, empati, dan tanggung jawab.

“Organisasi dan akademik tidak saling bertentangan. Justru organisasi membantu saya belajar mengatur waktu, disiplin, dan bertanggung jawab,” katanya.

Konsistensi itu berbuah prestasi. Pada 2024, Mita meraih Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah tingkat nasional yang diselenggarakan PABKI di bidang teknologi.

Setahun kemudian, ia kembali menorehkan capaian dengan menjadi juara dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah tingkat internasional bidang kesehatan mental yang diselenggarakan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Jambi.

Selain itu, ia juga aktif dalam penelitian bersama dosen, menjadi asisten jurusan, hingga dipercaya sebagai penanggung jawab mata kuliah di kelas.

Di balik prestasi tersebut perjalanan Mita tidak selalu mudah. Ia pernah merasa tertinggal dan kurang percaya diri saat awal kuliah karena berasal dari jurusan yang berbeda.

“Pernah ada fase merasa tertinggal dan ingin menyerah. Tapi saya mencoba terus belajar, berani bertanya, dan menerima bahwa memulai dari nol adalah bagian dari proses,” katanya.

Dari pengalaman itu, ia belajar bahwa keberhasilan bukan tentang siapa yang paling cepat, melainkan siapa yang mau bertahan dan terus berproses.

Motivasi terbesar Mita datang dari kedua orang tuanya. Menurutnya, perjuangan dan doa mereka menjadi penguat utama saat menghadapi tantangan akademik.

“Saya selalu ingat perjuangan orang tua. Keberhasilan ini bukan hanya tentang saya, tetapi tentang bagaimana saya membalas doa dan harapan mereka,” tuturnya.

Ingin Terus Bertumbuh dan Mengabdi

Usai meraih gelar sarjana, Mita ingin terus berkembang melalui dunia kerja maupun studi lanjut. Ia juga berharap tetap aktif dalam kegiatan sosial, khususnya pemberdayaan masyarakat dan pendampingan.

“Ilmu yang didapat tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi harus memberi manfaat untuk orang lain,” tegasnya.

Bagi adik tingkat di UIN Walisongo, ia menitipkan pesan sederhana namun kuat: jangan takut mencoba hal baru dan jangan mudah menyerah.

Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved