UIN Walisongo Semarang
Siti Nur Aisyah, Anak Petani Jadi Wisudawan Terbaik UIN Walisongo Berprestasi Internasional
Air mata haru, kerja keras, dan mimpi besar menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan akademik Siti Nur Aisyah.
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
Temuan menarik justru muncul ketika kontrol diri terbukti menjadi faktor paling dominan dalam membentuk minat menabung santri, melampaui pengaruh literasi keuangan maupun lingkungan sosial.
“Minat menabung ternyata lebih banyak dipengaruhi dorongan dari dalam diri untuk mengatur perilaku keuangan,” jelasnya.
Dalam penelitian itu pula, Aisyah menerapkan visi Kesatuan Ilmu (Unity of Sciences) UIN Walisongo Semarang dengan memadukan perspektif ekonomi syariah, psikologi, sosiologi, dan nilai-nilai Islam seperti amanah, pengelolaan keuangan, serta larangan perilaku konsumtif.
Meski hanya aktif di satu organisasi kampus, yakni JQH (Jam’iyyatul Qurra Wal Huffazh), Aisyah dikenal aktif mengikuti kompetisi akademik dan keagamaan.
Deretan prestasi berhasil ia raih, mulai dari Juara 1 Essay Internasional di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Harapan 3 Olimpiade Ekonomi Islam di Universitas Ahmad Dahlan, tiga besar seleksi Dai-Daiyah perwakilan UIN Walisongo, hingga menjadi presenter pada konferensi internasional ekonomi Islam di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Ia juga pernah menjadi perwakilan lomba MTQ tingkat Kecamatan Tugu menuju Kota Semarang.
Menariknya, Aisyah bahkan dipercaya dosen untuk ikut penelitian lapangan di Jakarta, menggantikan dosen mengisi kelas, hingga mendampingi mahasiswa junior belajar saat dosen berhalangan hadir.
Lahir dari keluarga sederhana, Aisyah adalah sarjana pertama di keluarganya.
Ayahnya seorang petani, sementara ibunya ibu rumah tangga yang turut membantu pekerjaan sawah. Keduanya hanya lulusan sekolah dasar.
Namun bagi Aisyah, keterbatasan tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti bermimpi.
“Ibu selalu bilang pendidikan adalah warisan yang tidak akan habis,” ujarnya.
Kini, setelah berhasil menyelesaikan studi dan meraih gelar wisudawan terbaik, langkah berikutnya telah ia siapkan: melanjutkan S2 demi mewujudkan impian menjadi dosen dan guru mengaji.
Jika jalan itu belum terbuka, ia siap bekerja terlebih dahulu untuk membantu orang tua.
Untuk mahasiswa UIN Walisongo, Aisyah berpesan agar tidak takut mencoba dan berani bermimpi besar.
“Bermimpilah setinggi mungkin dan cobalah sebanyak mungkin. Kalau gagal, masih ada mimpi lain yang bisa diperjuangkan,” pesannya.
Di balik toga dan predikat wisudawan terbaik, kisah Aisyah menjadi pengingat bahwa perjuangan, doa, dan bakti kepada orang tua sering kali melahirkan capaian yang tak pernah sederhana.(***)
| Mita Putri Apriliani dari Tata Boga Papua Barat Jadi Wisudawan Terbaik Moderasi di UIN Walisongo |
|
|---|
| Aisyah, Sarjana Pertama Keluarga Raih Wisudawan Terbaik Lewat Psikologi dan Publikasi |
|
|---|
| Amelia Kenang Perjuangan Kuliah sambil Kerja hingga Jadi Wisudawan Terbaik UIN Walisongo |
|
|---|
| Rektor UIN Walisongo Dorong Internasionalisasi, Beasiswa, Dan Prodi Baru Menuju WCU |
|
|---|
| Wisuda UIN Walisongo Mei 2026 lepas 642 Lulusan dan Apresiasi Karya Tugas Akhir Terbaik. |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260527_uinws06433344.jpg)