Rabu, 13 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Lalin Jalan Silayur Dinilai Lebih Lancar, Pengendara Soroti Gelombang Jalan dan Risiko Tanjakan

Kondisi lalu lintas di jalan Prof Dr Hamka, tepatnya di tanjakan Silayur, wilayah Ngaliyan, Kota Semarang.

Tayang:
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: raka f pujangga
TRIBUN JATENG/Idayatul Rohmah
Foto: ILUSTRASI - Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang kembali melakukan pemasangan portal pembatas kendaraan di kawasan simpang Jrakah, tepatnya di depan Pasar Jerakah, Purwoyoso, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, arah menuju BSB, Mijen, Selasa (28/4/2026) malam. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kondisi lalu lintas di jalan Prof Dr Hamka, tepatnya di tanjakan Silayur, wilayah Ngaliyan, Kota Semarang, dinilai mengalami perubahan setelah adanya pemasangan portal pembatas kendaraan.

Meski begitu, sejumlah persoalan infrastruktur jalan dan risiko di jalur tanjakan masih menjadi perhatian pengguna jalan.

Satu di antara pengendara, Ilham (27) mengaku hampir setiap hari melintasi jalur tersebut untuk berangkat kerja dari wilayah Mijen menuju kawasan Simpang Lima Semarang.

Baca juga: Tanjakan Silayur Dijaga Ketat, 50 Truk Dipaksa Putar Balik Setiap Hari di Semarang

"Ya setiap hari kalau berangkat kerja saya lewat jalan Silayur. Sampai weekend juga kalau ada urusan turun, ya lewatnya Silayur juga," kata Ilham kepada Tribun Jateng, Selasa (12/5/2026).

Ia mengatakan, pada hari kerja dirinya biasanya melintas pada jam berangkat kantor, sementara akhir pekan lebih sering melintas pada siang hingga sore hari.

"Weekday ya biasa berangkat di jam-jam berangkat kantor. Weekend biasanya siang gitu sih, siang ke sore gitu," katanya.

Ilham mengaku telah lama melewati jalur tersebut sejak masa kuliah. Menurutnya, selama beberapa tahun terakhir terdapat sejumlah perubahan kondisi jalan, meski karakter tanjakan dinilai masih sama seperti dulu.

Ia menyebut terdapat beberapa titik jalan bergelombang yang cukup mengganggu, terutama di jalur arah turun.

PASANG PORTAL: Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang kembali melakukan pemasangan portal pembatas kendaraan di kawasan simpang Jrakah, tepatnya di depan Pasar Jerakah, Purwoyoso, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, arah menuju BSB, Mijen, Selasa (28/4/2026) malam. (Tribun Jateng/Idayatul Rohmah)
PASANG PORTAL: Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang kembali melakukan pemasangan portal pembatas kendaraan di kawasan simpang Jrakah, tepatnya di depan Pasar Jerakah, Purwoyoso, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, arah menuju BSB, Mijen, Selasa (28/4/2026) malam. (Tribun Jateng/Idayatul Rohmah) (TRIBUN JATENG/Idayatul Rohmah)

"Perubahannya mungkin kadang ada kayak tambalan-tambalan seperti itu rata. Itu ya kadang usaha lagi, kayak tadi pagi ya contohnya kan aku sudah sering lewat, jadi tahu beberapa titik lubang yang lumayan," katanya.

Namun, ia mengaku merasakan kerusakan lebih berupa gelombang jalan dibanding lubang besar.

"Lebih ke gelombang-gelombang, di bagian kanan jalan," ujarnya.

Menurut Ilham, titik yang paling terasa berada di jalur arah turun dan berada di bagian tengah jalan.

"Yang paling agak parah itu yang arah turun. Yang arah naik itu sedikit," katanya.

Selain gelombang jalan, ia juga menyoroti adanya patahan jalan di sekitar akses Permatapuri menuju tanjakan Silayur yang dinilai membuat kendaraan harus memperlambat laju saat hendak menanjak.

"Permatapuri mau naik ke Silayur itu ada kayak patahan lewat jalan gede (besar). Jadi kalau lewat situ enggak mungkin bisa ngebut. Jadi mau nanjak malah ibaratnya enggak bisa ancang-ancang," tuturnya.

Terkait pemasangan portal pembatas kendaraan di kawasan Silayur, Ilham menilai kebijakan tersebut membawa dampak terhadap kelancaran lalu lintas, khususnya pada jam sibuk pagi hari.

"Ya mungkin ada efeknya juga sih. Di jam-jam yang mungkin padat jadi lebih aman, enggak macet," ujarnya.

Ia mengatakan, sebelum ada portal, kemacetan kerap dipicu kendaraan besar seperti truk.

Saat ini, menurutnya, waktu tempuh dari rumah menuju pusat Kota Semarang menjadi lebih singkat dibanding sebelumnya.

"Dulu itu sering banget macet, terutama kan itu Ngaliyan. Mungkin (waktu tempuhnya) jadi sekitar 45 menit kalau macet. Tapi kalau sekarang lancar ya 30-35 menit," ujarnya.

Selain mempercepat perjalanan, Ilham juga mengaku merasa pemasangan portal membuat pengendara lebih tenang saat melintas di kawasan tersebut.

"Rasa enggak terlalu was-was. Soalnya kan dulu mungkin yang takut, amit-amit, ada rem blong gitu, jadi lebih was-was lah," katanya.

Meski demikian, ia menilai jalur tanjakan Silayur tetap memiliki risiko tinggi, terutama ketika kendaraan besar melintas pada malam hari.

"Ya mungkin sebenarnya sih tanjakan itu tetap masih berbahaya juga gitu loh," ucapnya.
Sementara itu, warga Ngaliyan lainnya, Kusuma (30) menilai kondisi lalu lintas di kawasan Silayur menjadi lebih aman setelah adanya pemasangan portal pembatas kendaraan besar.

"Sebagai warga Ngaliyan, aku merasa lebih aman sih," ujarnya.

Menurutnya, sebelum ada portal, kendaraan besar dengan muatan berat masih sering melintas pada jam-jam sibuk, terutama pagi dan sore hari. Kondisi tersebut kerap menimbulkan rasa khawatir bagi pengendara lain.

"Jadi kalau dulu itu kan kayak kendaraan-kendaraan besar, apalagi jam-jam ramai pagi atau sore, terutama itu jam-jam itu dulu masih ada kendaraan besar di atas 8 MST (muatan sumbu terberat) itu sering lewat. Jadi itu kayak yang kita miris gitu, yang deg-degan. Apalagi kalau ada di belakang atau samping atau saat tanjakan itu kita ada di belakang," katanya.

Ia mengaku kini lebih tenang karena kendaraan besar yang melintas dinilai lebih terkendali dan tidak lagi didominasi truk bermuatan berlebih.

“Sekarang sekalipun ada truk tapi kan truknya yang kecil, terus enggak ada yang overload juga gitu kan, enggak yang Odol gitu," ujarnya.

Meski demikian, Kusuma menyebut kebijakan portal juga berdampak pada kendaraan tertentu seperti bus ziarah yang harus mengambil jalur lebih jauh.

"Jadi misalnya ke tempatku itu dia harus lewatnya Mangkang. Jadi kayak yang jalan tembus Mangkang, mungkin rutenya kayak lebih lebih panjang gitu. Kalau dulu kan bisa ya, itu karena ada pemasangan portal kan dia ndak bisa lewat jalur Jerakah itu atau lewat yang atas itu lewat yang Kedungpane," katanya.

Ia mengatakan, kondisi tersebut kerap menjadi pembicaraan warga setempat ketika ada kegiatan rombongan atau perjalanan ziarah.

"Itu kalau ceritanya orang-orang RT-ku yang kemarin itu kayak misalnya ada ziarah atau apa itu bilangnya ya sekarang mesti diputer-puterin, nggak kayak yang dulu. Soalnya ada aturan portal itu," ujarnya.

Namun secara umum, ia menilai kondisi lalu lintas untuk kendaraan pribadi seperti sepeda motor dan mobil menjadi lebih aman dibanding sebelumnya.

"Aman enggak yang kayak dulu," katanya.

Dari sisi kemacetan, Kusuma menilai kepadatan kendaraan di wilayah Ngaliyan masih terjadi di sejumlah titik tertentu, terutama pada jam kerja dan jam pulang kantor. Namun menurutnya, kemacetan saat ini bukan lagi dipicu kendaraan besar.

"Kayak yang pasti itu yang macet itu di area putar balik pedotan kayak yang di segitiga emasnya yang di bawah itu loh yang kemarin kecelakaan itu," ujarnya.

Ia menilai kondisi kawasan Ngaliyan saat ini lebih tertata dibanding sebelumnya. Kusuma juga mengapresiasi upaya petugas Dinas Perhubungan yang dinilai aktif melakukan pengawasan di lapangan.

"Semakin tertata. Apalagi kayak lihat effort-nya petugas Dishub," katanya.

Meski kondisi lalu lintas dinilai membaik, Kusuma menilai masih ada beberapa hal yang perlu dibenahi, terutama terkait drainase di kawasan turunan Silayur.

“Di di turunan Silayur itu kalau hujan, itu kayak drainase-nya masih ngalir di jalan, ndak yang masuk di gotnya," ujarnya.

Menurutnya, aliran air yang melintas di badan jalan cukup mengganggu pengendara dan turut memicu kerusakan jalan di sejumlah titik.

Baca juga: Kenapa Silayur Semarang Jadi Jalur Maut? Puluhan Korban Meregang Nyawa Tiap Tahunnya

"Itu sih kayak limpasan airnya itu mesti kena ke pengendara," katanya.

Ia berharap sistem drainase di kawasan tersebut dapat diperbaiki agar aliran air hujan dapat langsung masuk ke saluran pembuangan dan tidak menggenangi jalan.

"Kalau bisa dibenahi untuk sistem drainasenya. Biar air itu gimana caranya mengalir, terus bagaimana caranya air itu masuk ke drainase itu," ujarnya. (Adv/idy)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved