Semarang
Semarang Panas Ekstrim, Waspada Flu Tropis Picu Lonjakan ISPA, Dehidrasi, dan Heat Stroke
Cuaca ekstrem belakangan ini yang terjadi di Kota Semarang bukan hanya membuat tubuh gerah, tapi juga memicu berbagai penyakit.
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: rival al manaf
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Cuaca ekstrem belakangan ini yang terjadi di Kota Semarang bukan hanya membuat tubuh gerah, tapi juga memicu berbagai penyakit.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Muchlis Achsan Udji, mengingatkan masyarakat agar mewaspadai gejala flu tropis atau infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang banyak muncul akibat panas dan kelembaban tinggi di Kota Semarang.
“Sekarang ini cuaca sangat ekstrem. Banyak masalah kesehatan muncul karenanya. Mulai dari dehidrasi, gangguan elektrolit, hingga gangguan pernapasan,” jelas dr Muchlis saat dihubungi Tribunjateng, Sabtu (18/10/2025).
Baca juga: Waspada Nyamuk Lebih Ganas di Musim Panas Semarang, Risiko DBD Naik
Baca juga: Udara Terik Panas di Cilacap, BMKG Jelaskan Penyebabnya
Menurutnya, suhu panas berlebihan menyebabkan tubuh kehilangan cairan dan garam penting seperti natrium dan kalium.
“Gejalanya bisa berupa haus berlebihan, mulut kering, lemas, pusing, dan jantung berdebar cepat. Lansia, anak-anak, serta penderita penyakit ginjal kronis termasuk kelompok yang paling rentan,” katanya.
Selain dehidrasi, kasus heat stroke atau serangan panas juga meningkat.
Tubuh yang gagal mengatur suhu inti bisa mengalami gangguan organ.
“Banyak pasien datang dengan demam tinggi, mual, kebingungan, bahkan pingsan. Biasanya terjadi pada pekerja luar ruangan dan atlet,” tambahnya.
Namun yang paling sering ditemukan belakangan ini adalah flu tropis atau ISPA.
Kondisi ini, lanjutnya, disebabkan kombinasi panas, kelembaban tinggi, serta paparan polusi udara dan debu.
“Pasien datang batuk, sesak, dan nyeri tenggorokan. Anak-anak, lansia, dan orang dengan riwayat penyakit paru paling sering terdampak,” ujarnya.
Selain ISPA, dr Muchlis juga mencatat lonjakan pasien dengan tekanan darah tinggi, nyeri dada, serta kenaikan kadar gula darah pada penderita diabetes.
“Banyak pasien datang dengan gula darah di atas 700 karena kurang cairan dan tidak minum obat teratur,” tuturnya.
Ia juga menemukan banyak keluhan kulit seperti iritasi, gatal, hingga melepuh akibat paparan sinar matahari.
Bahkan, sebagian pasien mengalami gangguan tidur dan kecemasan karena perubahan suhu ekstrem.
| Tren Penggunaan CCTV di Semarang Naik 20 Persen, Kini Tak Sekadar Alat Keamanan |
|
|---|
| Kegiatan RT Sejak Januari Bisa Diganti Pakai BOP, Pemkot Semarang Buka Skema Reimburse |
|
|---|
| Transaksi Properti Melambat, AREBI Jateng Dorong Broker Bersertifikasi dan Lebih Profesional |
|
|---|
| Tak Dapat MBG Akhir-akhir Ini? Ratusan SPPG di wilayah KPPG Semarang Ditutup Akibat IPAL Jelek |
|
|---|
| Ketika Langit Semarang Berwarna Jingga, Orang-orang Mendadak Lupa Pulang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Tanah-mengering-di-sekitar-Waduk-Vinuela-Spanyol-dampak-gelompang-panas-ekstrem-Eropa.jpg)