Dugderan Semarang
Hal Berbeda Dugderan 2026, Anak-anak Ikut Kirab Denga Rute Khusus
Tradisi Dugderan di Kota Semarang tahun ini kembali digelar Semarak, Senin (16/2/2026).
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: rival al manaf
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Tradisi Dugderan di Kota Semarang tahun ini kembali digelar Semarak, Senin (16/2/2026).
Dalam tradisi menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriyah, satu di antara rangkaian yang digelar adalah kirab budaya.
Kirab bergerak dari Balai Kota Semarang menuju Masjid Agung Semarang (Kauman), kemudian dilanjutkan ke Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).
Baca juga: Demi Saksikan Warak Ngendok, Antusias Warga Semarang Rela Tunggu Kirab Dugderan Sejak Pukul 11.00
Baca juga: Besok Gelar Karnaval Dugderan, Pemkot Semarang Siapkan Rekayasa Lalu Lintas
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti mengenakan kebaya merah menunggangi kereta kuda dan berperan sebagai Kanjeng Mas Ayu Tumenggung Purbodiningrum.
Sampai di depan kawasan Kauman, Agustina turun dari kereta dan berjalan kaki menuju Masjid Agung Semarang.
Ia kemudian diikuti rombongan kirab yang merupakan jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Kota Semarang, perwakilan masing-masing kecamatan, perwakilan berbagai komunitas lintas etnis, organisasi masyarakat (ormas) hingga siswa-siswi sekolah.
Rombongan itu diawali prajurit Patang Puluhan, termasuk prajurit berkuda. Mereka kompak berjalan dari Balai Kota Semarang menuju Masjid Agung Semarang, Kelurahan Kauman, Kecamatan Semarang.
Agustina langsung menudungkan selendang merah dari bahu ke kepala saat memasuki kawasan Masjid Agung Semarang.
Setibanya di Masjid Agung Semarang, dilaksanakan prosesi penyerahan Suhuf Halaqah di depan Masjid Agung Semarang. Agustina bersama rombongan kemudian berjalan disambut ribuan warga menuju Aloon-Aloon Kauman.
Agustina membacakan lembaran suhuf halaqah tersebut lalu membunyikan bedug di Aloon-Aloon. Setiap pukulan, bunyi 'dor' petasan menggema yang terlihat dari arah Pasar Johar.
Suasana semakin semarak pembagian kue ganjel rel dan pembagian air minum khataman Al-quran kepada masyarakat di area tersebut.
Agustina mengatakan, rangkaian tradisi Dugderan 2026 digelar semakin meriah dibanding tahun sebelumnya. Pada Dugderan ini, Wali Kota menegaskan Dugderan bukan sekadar perayaan budaya, melainkan titik tolak bagi umat Muslim untuk menyambut bulan suci Ramadan.
"Tahun ini Dugderan lebih meriah dari tahun sebelumnya dan tahun depannya juga harus lebih meriah dari tahun ini," ujar Agustina.
Tradisi Dugderan yang menjadi ikon budaya Semarang kembali menghadirkan kemeriahan kirab budaya dan ikon Warak Ngendog.
Wali Kota menyebut, tahun ini seluruh warak diwajibkan "ngendok" sebagai simbol kedamaian dan persatuan. Menurut Wali Kota, filosofi warak yang ngendok melambangkan suasana harmonis dan terhindar dari konflik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260216_SEMARAK-DUGDERAN-2026.jpg)