Selasa, 28 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Di Antara Distorsi dan Kota Tua: Lumpia Musik dan Suara Anak Muda Semarang

Senja perlahan meredup di kawasan Kota Lama Semarang. Bangunan-bangunan tua bergaya Eropa yang selama berabad-abad

Penulis: budi susanto | Editor: muh radlis
TRIBUN JATENG/budi susanto
PERFORM - Forestation satu di antara grub band yang tergabung dalam Komunitas Lumpia Musik Semarang tampil di atas panggung yang ada di Borsumy Heritage yang ada di Kawasan Kota Lama Semarang, Selasa (10/3/2026). Band tersebut satu dari puluhan grup band all genre yang tergabung dalam komunitas tersebut. (TRIBUN JATENG/BUDI SUSANTO) 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Senja perlahan meredup di kawasan Kota Lama Semarang. Bangunan-bangunan tua bergaya Eropa yang selama berabad-abad menjadi saksi perjalanan kota itu mulai tenggelam dalam cahaya lampu temaram.

Namun di tengah suasana yang kian lengang, sebuah gema justru memecah kesunyian.

Distorsi gitar mengalun dari kejauhan. Mula-mula terdengar samar, seperti bisikan yang belum menemukan bentuknya. 

Namun semakin lama, suara itu tumbuh menjadi irama yang utuh bercampur dengan dentuman drum, alunan bass, dan vokal yang mengiris malam.

Suara itu datang dari sebuah panggung di Borsumy Heritage, tepat di sisi ikon Kota Lama, GPIB Immanuel.

Di sana, sekelompok anak muda berdiri di bawah sorot lampu panggung. Jari-jari mereka menari di atas senar gitar, memukul drum, dan mengalirkan nada dengan tempo yang kadang liar, kadang sendu.

Para pengunjung yang semula hanya  bersantai di kawasan berjuluk Little Netherlands itu perlahan fokus. 

Mereka seperti terhipnotis oleh alunan musik yang memecah ruang malam. Nada demi nada bergema di antara dinding-dinding tua kota.

Seolah-olah masa lalu kolonial yang terpatri di arsitektur kota itu sedang berdialog dengan kegelisahan generasi masa kini.

Bukan hanya satu grup yang tampil. Beberapa band bergantian naik ke panggung, membawa warna musik yang berbeda, dari blues, rock, hingga berbagai eksplorasi bunyi lainnya.

Namun mereka memiliki satu kesamaan yaitu semangat yang sama untuk bersuara.

Baca juga: Meriahkan HUT ke-60, Batang Siapkan Kirab Budaya dan Tarian Babalu 1.000 Penari

Para pemuda itu bukan sekadar pemain musik yang mengejar sorotan panggung.

Mereka adalah generasi yang mencoba menjadikan musik sebagai medium untuk menyampaikan kegelisahan sosial.

Mereka tergabung dalam sebuah komunitas bernama Lumpia Musik Semarang.

Hakim, salah satu anggota komunitas tersebut, menjelaskan bahwa Lumpia Musik lahir pada 2012.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved