Senin, 18 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Salat Idulfitri di Lawang Sewu, Eni Lepas Rindu Setelah 30 Tahun Merantau

Suasana pagi di pelataran bangunan bersejarah Lawang Sewu, Kota Semarang, tampak khidmat sejak sebelum matahari terbit, Sabtu (21/3/2026).

Tayang:
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: M Syofri Kurniawan
TRIBUN JATENG/Idayatul Rohmah
SALAT IDULFITRI - Salat Idulfitri di pelataran bangunan bersejarah Lawang Sewu, Kota Semarang, tampak khidmat, Sabtu (21/3/2026). (Tribun Jateng/Idayatul Rohmah) 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Suasana pagi di pelataran bangunan bersejarah Lawang Sewu, Kota Semarang, tampak khidmat sejak sebelum matahari terbit, Sabtu (21/3/2026).

Ratusan warga mulai berdatangan dengan pakaian rapi, memenuhi halaman bangunan ikonik tersebut untuk melaksanakan Salat Idulfitri.

Tepat sekitar pukul 06.15 WIB, salat dimulai dengan tertib.

Baca juga: Pesta Kembang Api dan Mobil Hias Meriahkan Malam Takbiran di Kauman Semarang

Imam sekaligus khatib, H Machasin, memimpin jalannya ibadah, sementara Arda Nur Yulian menjalankan tugas sebagai bilal. 

Dalam khotbah, H Machasin menekankan pentingnya menjaga hati sebagai pusat kebaikan manusia.

Ia menyampaikan, baik dan buruknya seseorang sangat bergantung pada kondisi hatinya.

Dalam penyampaiannya, ia mengutip hadis riwayat Bukhari dan Muslim tentang segumpal daging dalam tubuh manusia yang menentukan keseluruhan perilaku.

Apabila hati itu baik, maka baik pula perilaku seseorang. Sebaliknya, jika hati buruk, maka buruk pula perbuatannya. 

Lebih lanjut, ia menjelaskan amalan penting yang harus dilakukan untuk menjaga hati. Pertama, hati harus dibersihkan. Ia mengibaratkan hati seperti benda yang bisa kotor, namun kotoran hati bukan berupa debu, melainkan dosa dan sifat-sifat tercela.

Jika seseorang terlanjur melakukan dosa, maka jalan terbaik adalah segera bertaubat kepada Allah agar hati kembali bersih dari “titik hitam” yang menodainya.

Kedua, hati harus dijaga kelembutannya. Dengan hati yang lembut, hubungan antar sesama manusia akan terjalin lebih baik. Sikap penuh kasih sayang akan tumbuh, sekaligus menjauhkan diri dari rasa benci terhadap orang lain, bahkan terhadap mereka yang berbuat tidak baik.

Khotbah tersebut memberikan pesan mendalam kepada jamaah agar senantiasa menjaga kebersihan dan kelembutan hati, sebagai bekal menjalani kehidupan yang lebih harmonis pasca-Ramadan.

Nikmati suasana Lawang Sewu setelah 30 tahun merantau

Usai pelaksanaan Salat Idulfitri, suasana di pelataran Lawang Sewu tidak serta-merta sepi. Sejumlah jamaah tampak masih bertahan, memanfaatkan momen untuk bersilaturahmi hingga mengabadikan kebersamaan bersama keluarga.

Di antara mereka, Eni (60), perantau asal Semarang yang telah lebih dari 30 tahun menetap di Kalimantan, memutuskan salat Id di Lawang Sewu.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved