Minggu, 12 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Visualisasi Jalan Penyaliban Yesus di Bongsari Semarang Jadi Ruang Refleksi Umat Katolik

Visualisasi jalan penyaliban berjudul Kisah Sengsara Tuhan Yesus berlangsung khidmat di Gereja Katolik Paroki

|
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: muh radlis
TRIBUN JATENG/Rezanda Akbar D
VISUALISASI - Drama jalan salib atau via dolorosa di Gereja Katolik Paroki St Theresia Bongsari, Jumat (3/4/2026) pagi, digelar secara kolosal menjadi puncak perenungan umat Katolik dalam rangkaian Tri Hari Suci: Kamis Putih, Jumat Agung, dan Malam Paskah/TRIBUNJATENG/REZANDA AKBAR D. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG — Visualisasi jalan penyaliban berjudul Kisah Sengsara Tuhan Yesus berlangsung khidmat di Gereja Katolik Paroki St Theresia Bongsari beralamat di Jalan Puspowarno No.9, RT.06/RW.03, Bojongsalaman, Semarang Barat, Kota Semarang, Jumat (3/4/2026) pagi. 

Hari itu, visualisasi jalan salib atau Via Dolorosa digelar secara kolosal menjadi puncak perenungan umat Katolik dalam rangkaian Tri Hari Suci: Kamis Putih, Jumat Agung, dan Malam Paskah. 


Puluhan pemuda dan pemudi gereja menanggalkan identitas sehari-hari mereka, dan mengambil peran dalam drama rohani yang menyayat hati.


Mereka tidak sekadar tampil namun menghidupkan kembali kisah yang berusia lebih dari dua milenium. 


Kisah yang menuturkan luka, penolakan, kejatuhan, dan cinta tanpa syarat. Sebuah pengorbanan yang diyakini sebagai puncak kasih Tuhan bagi umat manusia.


Dalam rangkaian adegan yang disusun menyerupai kisah Injil, umat diajak menyaksikan kembali perjalanan sengsara dari deraan, ejekan, hingga penyaliban bukan sekadar sebagai tontonan, melainkan pengalaman batin yang hidup.


Sosok Yesus berjalan tertatih, memanggul salib, dikelilingi sorakan dan tekanan yang terasa nyata. 

Baca juga: Angkutan Lebaran Usai, Stasiun Batang Makin Dilirik: Penumpang Naik 8 Persen


Beberapa umat memilih diam, sebagian menunduk, dan melihat dengan mata yang berkaca-kaca lainnya mengikuti setiap langkah dengan mata yang tak lepas.


Peran Yesus dibawakan oleh Alex Devin Christoffels, mahasiswa sekaligus anggota teater di Universitas Katolik Soegijapranata. Ini menjadi pengalaman pertamanya memerankan tokoh sentral dalam kisah sengsara.


Alex, mengaku melakukan persiapan tidak hanya secara fisik, tetapi juga spiritual. 


Ia menjalani puasa selama tiga minggu sebelum pementasan, sebagai bentuk penghayatan terhadap peran yang dibawakannya. 


“Secara fisik saya puasa, dan secara rohani juga berdoa. Puasanya sekitar tiga minggu,” ujar Alex


Ia mengaku tantangan terbesar bukan pada fisik, melainkan mental.


“Semua pukulan, ejekan, dan lemparan itu harus diterima dengan kasih. Itu yang sulit, karena saya manusia biasa,” kata Alex.


Selama sekitar satu bulan lebih, Alex menjalani proses latihan yang cukup intens. Ia juga melakukan puasa selama tiga minggu sebagai bagian dari persiapan fisik dan spiritual, disertai doa untuk menjaga fokus dan penghayatan peran.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved