Minggu, 3 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Visualisasi Jalan Penyaliban Yesus di Bongsari Semarang Jadi Ruang Refleksi Umat Katolik

Visualisasi jalan penyaliban berjudul Kisah Sengsara Tuhan Yesus berlangsung khidmat di Gereja Katolik Paroki

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: muh radlis
TRIBUN JATENG/Rezanda Akbar D
VISUALISASI - Drama jalan salib atau via dolorosa di Gereja Katolik Paroki St Theresia Bongsari, Jumat (3/4/2026) pagi, digelar secara kolosal menjadi puncak perenungan umat Katolik dalam rangkaian Tri Hari Suci: Kamis Putih, Jumat Agung, dan Malam Paskah/TRIBUNJATENG/REZANDA AKBAR D. 


Referensi yang ia gunakan beragam, mulai dari film The Passion of the Christ hingga bacaan teks religius. 


Namun, menurutnya, yang paling menentukan tetap pada bagaimana ia bisa memahami makna pengorbanan itu sendiri.


“Awalnya ada rasa takut, kalau gagal akan mengecewakan banyak orang. Tapi setelah dijalani, saya merasa lega,” katanya.


Visualisasi ini melibatkan sekitar 50 orang pemain lintas usia, mulai dari remaja hingga orang tua.


Sutradara Emmanuel Darryl Girvan menyebut proses persiapan berlangsung sekitar dua hingga dua setengah bulan, terdiri dari tahap casting dan latihan.


Tahun ini, panitia membuka kesempatan lebih luas melalui sistem open casting. Hasilnya, banyak peserta yang terlibat tanpa latar belakang teater.


“Sebagian besar memang bukan dari dunia teater. Itu jadi tantangan tersendiri, karena kami harus mengejar kemampuan akting mereka dalam waktu relatif singkat,” ujarnya.


Meski demikian, ia melihat antusiasme dan komitmen para pemain justru menjadi kekuatan utama dalam pementasan kali ini.


“Talenta mereka muncul selama proses. Itu yang membuat visualisasi tahun ini terasa lebih hidup,” tambahnya.


Bagi Romo Synesius Suyitna, Kepala Paroki, visualisasi Jalan Salib memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar peragaan cerita.


Menurutnya, selama ini umat telah akrab dengan kisah sengsara melalui bacaan. Namun, ketika divisualisasikan, pengalaman itu menjadi lebih konkret dan menyentuh.


“Melalui visualisasi ini, umat tidak hanya memahami, tetapi juga merasakan apa yang dialami Yesus,” jelasnya.


Ia menekankan bahwa inti dari kisah tersebut bukan semata penderitaan, melainkan kasih yang tetap hadir bahkan dalam situasi paling sulit.


“Kasih itu yang ingin ditangkap. Bahkan kepada yang menyakiti,” katanya.


Lebih jauh, pesan Paskah yang dihidupi di Keuskupan Agung Semarang mendorong umat untuk tidak berhenti pada praktik iman personal, tetapi juga mewujudkannya dalam kehidupan sosial.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved