Rabu, 22 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Organda Semarang Usul Hapus Pertalite Asal Transportasi Massal Digratiskan

Organda Kota Semarang menilai kebijakan energi saat ini perlu diimbangi dengan langkah konkret pemerintah dalam memperkuat transportasi massal.

Penulis: Raf | Editor: raka f pujangga
TRIBUN JATENG/Reza Gustav Pradana
BERI KETERANGAN - Ketua DPC Organda Semarang, Bambang Pranoto Purnomo, memberikan keterangan kepada awak media terkait dampak kenaikan harga BBM dan usulan penguatan transportasi massal di Jalan Simongan, Ngemplak Simongan, Semarang Barat, Kota Semarang, Selasa (21/4/2026) sore. Dia menyoroti perlunya pembatasan kendaraan pribadi, pengawasan distribusi BBM subsidi, serta percepatan transportasi umum gratis sebagai solusi mobilitas masyarakat. 

Terkait kenaikan harga Dexlite dan Pertamina Dex yang melonjak signifikan pada April 2026, Organda menilai dampaknya terhadap angkutan umum relatif dapat ditekan, selama distribusi Biosolar tepat sasaran. 

Namun demikian, Bambang mengingatkan masih banyak kendaraan pribadi yang memanfaatkan BBM subsidi, sehingga mengganggu alokasi untuk sektor transportasi umum.

Dia mendorong pemerintah untuk memperketat sistem distribusi, termasuk dengan mengevaluasi penggunaan barcode bagi kendaraan pribadi.

“Kalau memang serius, Biosolar harus murni untuk operasional angkutan umum dan logistik,” ujarnya.

Sebagai langkah jangka panjang, Bambang bahkan mengusulkan penghapusan Pertalite, dengan catatan pemerintah mampu menyediakan transportasi massal gratis secara luas. 

Menurut dia, langkah tersebut justru lebih efisien dibanding mempertahankan subsidi BBM yang banyak dinikmati kendaraan pribadi tanpa pembatasan.

Di tingkat daerah, dia mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Semarang yang dinilai progresif dalam mendukung transportasi publik. 

Satu di antaranya melalui Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2024 yang mengamanatkan alokasi minimal 5 persen APBD untuk pengembangan transportasi massal.

Implementasi kebijakan tersebut mulai terlihat dengan rencana pengoperasian 27 unit bus listrik di koridor utama kota pada Oktober mendatang. 

Bambang menilai langkah itu sebagai sinyal kuat bahwa pemerintah daerah serius mendorong peralihan dari kendaraan berbasis BBM ke transportasi yang lebih ramah lingkungan.

“Kota Semarang sudah menunjukkan arah yang jelas.

Ini harus didukung secara nasional agar transisi energi di sektor transportasi berjalan optimal,” pungkas dia.

Di tengah sorotan soal penguatan transportasi massal dan kritik terhadap ketergantungan kendaraan pribadi, pandangan masyarakat Kota Semarang menunjukkan respons yang beragam.

Rafi Candera (34), warga Gajahmungkur yang berprofesi sebagai pedagang pakaian, mendukung penuh pengembangan transportasi umum yang terintegrasi. 

Dia bahkan membandingkan dengan sistem di luar negeri yang dinilainya lebih efisien.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved