Semarang
Cerita di Balik Tim 'Pemburu Mayat' Semarang: Pernah Kumpulkan Potongan Jenazah
Telepon dari warga bisa datang kapan saja tentang korban kecelakaan di jalan, penemuan jenazah di rumah.
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: rival al manaf
Selain evakuasi jenazah, aktivitas mereka juga mencakup penanganan korban non-meninggal. Bahkan, mereka kerap membantu orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang terlantar di jalan.
“Kita mandikan dulu, dibersihkan, supaya tim medis lebih mudah menangani. Intinya membantu,” katanya.
Motivasi Mujiono terjun menjadi relawan berangkat dari pengalaman pribadi.
Ia mulai aktif sejak usia 30 tahun, setelah istrinya mengalami kecelakaan.
Saat itu, ia mengaku kebingungan karena tidak tahu harus berbuat apa dan minim bantuan di lokasi.
“Saya waktu itu tidak tahu harus bagaimana. Dari situ saya berpikir, orang lain jangan sampai mengalami hal yang sama,” ujarnya.
Sejak saat itu, ia terus aktif menjadi relawan hingga sekarang. Tanpa gaji, tanpa bayaran tetap.
“Saya tidak pernah menerima gaji. Tapi alhamdulillah bisa hidup, bahkan bisa punya rumah,” katanya.
Dalam satu minggu, timnya bisa menerima satu hingga dua laporan penemuan jenazah. Sementara untuk kecelakaan, jumlahnya bisa lebih sering, meski tidak semuanya berujung fatal.
“Kalau kecelakaan hampir tiap hari ada laporan,” tambahnya.
Meski dikenal dengan nama “pemburu mayat”, Mujiono menegaskan bahwa kegiatan mereka tetap berlandaskan nilai sosial.
“Yang penting kami membantu. Memanusiakan manusia,” tegasnya.
Dikesempatan yang sama, Marsudi (63), yang akrab disapa Mbah Uban, memiliki pengalaman panjang di lapangan. Ia mengaku sudah tak terhitung jumlah jenazah yang pernah ia bantu evakuasi.
Salah satu yang paling diingat adalah kejadian kecelakaan kereta di kawasan Kaligawe.
“Korban waktu itu tertabrak kereta. Kondisinya sudah hancur,” ujarnya.
| Kronologi Warga Semarang Tembak Kreak Bersenjata Tajam, Awalnya Hanya Untuk Menakuti |
|
|---|
| Warga Semarang yang Menembak Kreak Bersenjata Tajam Jadi Tersangka |
|
|---|
| "Ruang Isolasi Jebol Tiga Kali", Cerita Pengelola Among Jiwo Hadapi ODGJ Kerap Melarikan Diri |
|
|---|
| Lahan Bekas Tambang di Bawen Bakal Jadi Agrowisata, Akan Dibangun Glamping hingga Kebun Buah |
|
|---|
| BUMDes di Semarang Kembangkan Selada Premium dari Dana Desa, Kini Sumbang 60 Persen PADes |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/FOTO-BERSAMA-Relawan-Tim-Pemburu-Mayat-di-Semarang.jpg)