Senin, 27 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Gadis Dibakar di Semarang

Fakta Baru Gadis Remaja Dibakar Paman di Semarang, Korban Sudah Sering Dianiaya

Seorang anak perempuan berinisial T (15), di Kecamatan Semarang Utara, mengalami luka bakar.

Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: rival al manaf
IST
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng melalui Camat Semarang Utara, Siwi Wahyuningsih bersama jajaran kelurahan langsung melakukan koordinasi dengan dinas terkait, seperti DP3A, Dinas Sosial dan RSWN untuk memastikan korban mendapatkan perlindungan 

TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG - Seorang anak perempuan berinisial T (15), di Kecamatan Semarang Utara, mengalami luka bakar setelah diduga disiram bensin dan dibakar oleh pamannya sendiri, S (32), pada Sabtu (18/4/2026) sekitar pukul 18.30 WIB.

Peristiwa itu bermula saat korban diminta mandi oleh pelaku. Namun permintaan tersebut tidak diindahkan. 

Pelaku yang diduga tersulut emosi kemudian mengambil cairan dalam botol plastik yang diduga berisi bensin, menyiramkannya ke tubuh korban, lalu menyulut api menggunakan korek.

Korban sempat terbakar dan berteriak meminta pertolongan. 

Baca juga: Siswi SMP Dibakar Paman di Semarang Utara Dipindahkan ke RSWN

Baca juga: Gadis 15 Tahun di Semarang Utara Diduga Dibakar Pamannya, Polisi Kejar Pelaku

Warga sekitar bergegas memadamkan api sebelum korban dilarikan ke Rumah Sakit Panti Wilasa untuk mendapatkan perawatan. 

Korban mengalami luka bakar di bagian punggung dan lengan kanan, dan kini dilaporkan mulai membaik.

Di balik peristiwa itu, terungkap kondisi keluarga korban yang membuatnya kerap berada di rumah pelaku.

Lurah setempat, Suyoko, mengatakan korban tidak sepenuhnya tinggal bersama ibu kandungnya.

Korban lebih sering berada di rumah neneknya yang berada di lokasi kejadian berlangsung.

“Anaknya itu ikut mbahnya di sana. Sementara ibunya tinggal di daerah saya,” ujar Suyoko ditemui Tribun Jateng, Sabtu (25/4/2026).

Menurut dia, kondisi keluarga menjadi salah satu faktor.

Ayah korban telah meninggal dunia, sementara ibu korban telah berkeluarga kembali dan tinggal di rumah yang terbatas.

Di sisi lain, pelaku yang merupakan paman korban juga tinggal di rumah tersebut dan selama ini turut membantu merawat nenek korban. 

Situasi itu membuat korban kerap menginap bahkan tinggal di sana.

“Ada pertimbangan keluarga juga. Pamannya ikut mengurus mbahnya, jadi anak itu sering di sana,” jelasnya.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved