Kamis, 4 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Sosok Asih Animal Communicator asal Semarang, Tangani Hewan Agresif Hasil Rescue

Asih warga Semarang ini dikenal sebagai animal communicator atau seseorang yang menjembatani komunikasi nonverbal antara manusia dan hewan.

Tayang:
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: deni setiawan
TRIBUN JATENG/Rezanda Akbar D
GENDONG KUCING - Asih Hardianti menggendong seekor kucing rescue berwarna hitam di kediamannya di kawasan Puspanjolo Tengah Raya, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Minggu (24/5/2026). Asih dikenal sebagai animal communicator yang menjembatani komunikasi nonverbal antara manusia dan hewan. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Asih Hardianti (51) duduk santai di ruang tamu rumahnya di kawasan Puspanjolo Tengah Raya, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang.

Di sekelilingnya, puluhan kucing rescue berlalu-lalang bebas.

Uniknya, hanya lewat satu panggilan singkat, kucing-kucing itu langsung mendekat seolah memahami setiap ucapan perempuan kelahiran 1974 tersebut.

Baca juga: Mendes Yandri Panen Melon di Tuntang Semarang, Siapkan Bantuan Dana untuk Desa Produktif

Wali Kota Semarang Sambut Biksu Thudong, Bawa Misi Perdamaian Menuju Waisak

Asih memang bukan dokter hewan. Namun dia dikenal sebagai animal communicator atau seseorang yang menjembatani komunikasi nonverbal antara manusia dan hewan.

Kecintaan Asih terhadap hewan sebenarnya sudah tumbuh sejak kecil. 

Namun perjalanan menjadi animal communicator baru dimulai saat dirinya aktif melakukan rescue kucing terlantar di Yogyakarta pada 2018.

Dari situ, dia sering menemukan kucing dengan perilaku agresif maupun trauma akibat kekerasan dan penelantaran manusia.

“Kucing yang saya temui, baik di lingkungan tempat tinggal maupun tempat kerja, memiliki latar belakang dan perilaku yang berbeda-beda."

"Ada yang mengalami trauma akibat kekerasan dari manusia yang tidak menyukai mereka,” ujar Asih saat ditemui Tribunjateng.com di kediamannya, Minggu (24/5/2026).

Berangkat dari pengalaman tersebut, Asih mulai mencari cara untuk memahami kondisi emosional hewan-hewan rescue yang dirawatnya. 

Dia kemudian mengenal profesi animal communicator melalui dokter hewan sekaligus praktisi komunikasi hewan asal Tangerang, Rajanti Fitriani.

Pada pertengahan 2023, Asih memutuskan mengikuti kursus profesional untuk mempelajari komunikasi nonverbal dengan hewan.

“Saya merasa butuh belajar sendiri supaya bisa menangani kucing-kucing yang tiap hari saya temui tanpa harus selalu minta bantuan orang lain,” ungkapnya.

Perempuan yang juga bekerja sebagai ASN di Lingkungan Pemprov Jateng itu menilai manusia sebenarnya memiliki kemampuan membangun koneksi emosional dengan makhluk hidup lain melalui alam bawah sadar.

Menurutnya, komunikasi tersebut dilakukan bukan lewat bahasa verbal, melainkan lewat gelombang emosi, intuisi, dan energi positif.

“Jadi sebenarnya manusia punya kemampuan terhubung lewat alam bawah sadar."

"Melalui gelombang alfa itu bisa komunikasi nonverbal, bukan cuma dengan hewan, juga dengan sesama manusia,” imbuhnya.

Asih masih mengingat pengalaman pertamanya mempraktikkan ilmu animal communicator kepada kucing rescue miliknya bernama Vici.

Baca juga: Mengintip Markas Sindikat Scam Internasional di Sukoharjo, Warga Mengira Kantor Konsultan

Ending Kisah Calon Pengantin Kabur Jelang Akad Nikah di Pati: Nayla dan David Bakal Menikah

Kucing yang ditemukan di tempat pembuangan sampah belakang Lawang Sewu itu dikenal suka menakut-nakuti anak-anak kucing baru yang datang ke rumah.

Akibat perilaku tersebut, beberapa kucing rescue lain merasa ketakutan hingga memilih bersembunyi saat Vici muncul.

Untuk mengubah perilaku Vici, Asih rutin memberikan afirmasi positif sambil mencoba memahami emosi kucing tersebut.

“Saya bilang ke Vici, harus sayang sama semua, Vici anak baik, semua harus rukun. Saya ingatkan itu berkali-kali ternyata berhasil,” jelasnya.

Dari proses komunikasi itu pula, Asih merasa mengetahui bahwa perilaku Vici muncul bukan karena marah, melainkan sekadar iseng dan senang mengganggu kucing baru.

Tangani Kasus Anjing Galak

Tak hanya menangani kucing, Asih juga beberapa kali diminta membantu menjembatani komunikasi dengan hewan lain seperti anjing, burung, kura-kura, hingga buaya.

Salah satu kasus yang paling sering ia tangani yakni anjing peliharaan yang berubah agresif hingga menyerang pemiliknya sendiri.

Menurut Asih, perubahan perilaku tersebut umumnya dipicu perubahan rutinitas dan berkurangnya perhatian dari pemilik.

“Jadi ada satu kasus yang saya tangani, anjing ini dekat sekali dengan anak pemiliknya," ujarnya.

"Setiap pagi sering diajak jalan-jalan keluar, tapi ketika si anak ini bekerja, anjingnya bingung lalu muncul rasa marah dan akhirnya menyerang,” sambungnya.

Tak jarang, proses mediasi antara pemilik dan hewan berubah menjadi suasana haru.

Menurutnya, ada momen ketika pemilik dan hewan peliharaan sama-sama menangis setelah persoalan yang selama ini memicu perubahan perilaku akhirnya dipahami bersama.

“Sering terjadi momentum seperti itu. Setelah tahu duduk masalahnya, hewan dan pemiliknya jadi bisa saling memahami lagi,” katanya.

Meski begitu, profesi animal communicator masih sering dipandang sebelah mata karena dianggap tidak masuk akal.

Namun bagi Asih, perubahan perilaku hewan setelah menjalani proses komunikasi menjadi bukti paling nyata dari pendekatan yang dilakukannya.

Animal communicator itu sebenarnya hanya mediator. Hewan punya masalah tapi tidak bisa menyampaikan, sementara manusia tidak tahu apa yang dirasakan hewannya,” tandasnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved