Life Style
Kampung Batik Rejomulyo Semarang Kini Semakin Cantik
Kawasan ini juga tertata rapi dan semakin hidup dengan jalan maupun tembok yang penuh mural maupun relief buatan.
Penulis: iwan Arifianto | Editor: rival al manaf
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Menyambangi Kampung Batik Rejomulyo, seperti terhisap ke dimensi lain Kota Semarang.
Kampung itu bersih, hampir tidak ada satupun sampah yang tercecer di sepanjang jalan gang perkampungan.
Kawasan ini juga tertata rapi dan semakin hidup dengan jalan maupun tembok yang penuh mural maupun relief buatan.
Kampung Batik Rejomulyo Semarang berada tak jauh dari kawasan Kota Lama Semarang dan selemparan batu dari Museum Kota Lama yang berada di Bundaran Bubakan. Kampung ini masuk di RW 2 Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Semarang Timur.
Baca juga: Giliran Jalur Arah Semarang Dicor, Pantura Brangsong Kendal Macet Lagi
Baca juga: Produksi Terbatas, 75 Persen Kebutuhan Susu Nasional Masih Impor
"Ya Kampung Batik selalu cantik, kami selalu jaga kebersihannya agar wisatawan selalu nyaman saat mendatangi tempat ini," jelas Koordinator Wisata Kampung Batik Semarang, Ida Purwati (62) kepada Tribun, Selasa (2/6/2026).
Ida mengatakan, kawasan Kampung Batik selalu berbenah untuk menggaet wisatawan ke tempat ini. Kawasan Kampung Batik yang mencakup sembilan Rukun Tetangga (RT) ini, masih sangat mengandalkan kunjungan wisatawan agar 15 konter batik bisa tetap laku.
"Konter batik sebelumnya ada 20, tetapi karena pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu, kini tinggal 15 konter," bebernya.
Sejarah Panjang Kampung Batik Semarang
Menghidupkan Kampung Batik Semarang tak semudah membalikkan telapak tangan. Ida mengaku, Kampung Batik Semarang sempat "mati suri" akibat pertempuran lima hari Semarang pada 15-19 Oktober 1945.
Pertempuran warga Semarang melawan penjajah Jepang itu menyebabkan sejumlah pembatik meninggalkan kampung karena ketakutan dan kondisi kampung juga hancur.
Namun, Kampung Batik yang sempat "tertidur" itu kemudian berusaha dibangkitkan kembali.
“Waktu itu beliau (istri wali kota, Sinto Sukawi Sutarip) sedang jalan sehat lalu saya diminta untuk hidupkan kembali kampung Batik, persisnya pada Juni 2006,” katanya.
Ida yang mendapatkan mandat itu lantas mengumpulkan 20 warga untuk berlatih menjadi pembatik dengan tujuan dapat kembali menghidupkan kampung batik.
Singkat cerita, dari 20 warga itu berhasil menjadi pembatik lalu berjibaku menghidupkan Kampung Batik Rejomulyo.
Para pembatik juga bersama warga lainnya Bayu membahu menyamakan tekad menghidupkan Kampung Batik.
Hingga akhirnya pada 2016, Rejomulyo ditetapkan sebagai Kampung Batik. "Kampung Batik juga masuk sebagai kampung Tematik. Tahun 2017, kampung batik semakin lengkap saat hadirnya Kampoeng Djadhoel," ujarnya.
| Beauty Fest Semarang 2026, Banyak Rekomendasi Skincare Untuk Gen Z yang Banyak Aktivitas |
|
|---|
| Rekomendasi Wedding Organizer di Semarang, Pilihan Profesional untuk Pernikahan Impian |
|
|---|
| Tren Konsep Pernikahan 2026: Dari Gaun Internasional Modern hingga Dekorasi Estetik |
|
|---|
| Review Kamar Somerset Queen City Hotel Baru di Kota Semarang |
|
|---|
| Ini Rekomendasi Vendor Pernikahan, Gaun Pengantin, Dekorasi hingga Catering dari Ikapesta |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/TERTATA-RAPI-Suasana-gang-di-Kampung.jpg)