Sabtu, 6 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Begini Progres Pembangunan Mal Terbesar Indonesia di Kota Semarang

Dinas Penataan Ruang (Distaru) Kota Semarang menyebut aktivitas yang saat ini berlangsung di kawasan rencana

Tayang:
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: muh radlis
IST
KONDISI LAHAN - Kondisi kawasan rencana pembangunan Pakuwon di Gombel Lama, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang. Disebutkan, kawasan itu saat ini masih berupa pematangan lahan dan penguatan lereng, belum memasuki tahap pembangunan mal maupun bangunan komersial lainnya. Ist/Distaru Kota Semarang 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Dinas Penataan Ruang (Distaru) Kota Semarang menyebut aktivitas yang saat ini berlangsung di kawasan rencana pembangunan Pakuwon di Gombel Lama, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, masih berupa pematangan lahan dan penguatan lereng, belum memasuki tahap pembangunan mal maupun bangunan komersial lainnya.


Saat ini sejumlah alat berat masih beroperasi di area perbukitan sisi barat Jalan Gombel Lama.


Kepala Distaru Kota Semarang, Ferry Kuntoaji mengatakan, pekerjaan yang berlangsung saat ini merupakan tahap awal yang harus dilakukan sebelum pembangunan kawasan komersial dapat dilaksanakan.


Menurutnya, pekerjaan yang dilakukan saat ini difokuskan pada peningkatan stabilitas tanah melalui pemasangan struktur penahan lereng menggunakan metode borpile sebagai bagian dari upaya mitigasi potensi pergerakan tanah di kawasan tersebut.


"Dalam 2 tahun terakhir, kawasan gombel lama telah terpasang sensor inclinometer dan piezometer pada 20 titik pantau yang untuk mendeteksi pegerakan tanah serta mengukur muka air tanah dan tekanan fluida," katanya, Jumat (5/6/2026).

Baca juga: Dari Warung Es Teh hingga Rumah Pelaku, Begini Kronologi Pengungkapan Kasus Sabu 54 Gram di Salatiga


Menurut Ferry, sensor tersebut dipantau secara berkala untuk mengetahui perubahan kondisi tanah, muka air tanah, dan tekanan fluida yang berpotensi memengaruhi stabilitas lereng. Hasil pemantauan kemudian menjadi dasar dalam menentukan langkah-langkah teknis penanganan kawasan.


"Sensor monitoring ini dipantau dan dianalisis secara periodik dengan interval waktu setiap dua minggu sekali, sehingga deformasi sekecil apa pun pada lapisan tanah terdalam dapat langsung terdeteksi dan diantisipasi sejak dini sebelum memicu pergerakan yang lebih masif," katanya.


Ferry menyebut pekerjaan yang saat ini terlihat di lapangan masih berupa tahapan persiapan dan penguatan lahan.


"Jadi yang sekarang dilaksanakan itu adalah proses pematangan lahan, bukan proses pembangunan mall," katanya.


Selain pekerjaan pematangan lahan, di lokasi yang berdekatan pemerintah pusat melalui Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Tengah-DI Yogyakarta juga sedang melakukan perbaikan Jalan Gombel Lama yang merupakan ruas jalan nasional nomor 091 berdasarkan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 1688/KPTS/M/2022.


Karena kedua pekerjaan berada dalam satu koridor kawasan, kata dia, penanganan dilakukan secara terkoordinasi agar sistem drainase, perlindungan lereng, dan konstruksi jalan dapat berjalan selaras.


Pada Rabu (3/6), Distaru bersama Tim Profesi Ahli Bangunan Gedung melakukan peninjauan lapangan untuk melihat perkembangan pekerjaan yang sedang berlangsung.


Dalam kesempatan tersebut, tim Profesi Ahli Bangunan Gedung, Prof Dr Ir Bambang Setioko, M Eng menjelaskan pekerjaan yang dilakukan saat ini merupakan bagian dari rekomendasi hasil kajian geoteknik yang telah dilakukan selama sekitar dua tahun.


"Dengan teknologi yang dikembangkan oleh Prof Paulus, pergerakan tanah dapat diatasi dengan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi salah satunya yaitu pematangan lahan yang dilakukan dengan cara boring, sehingga diperkirakan tidak menggangu lingkungan dan publik setempat, dan upaya ini dilakukan bertujuan untuk mengantisipasi pergerakan tanah yang sangat dikawatirkan oleh publik," katanya.


Menurut Bambang, pematangan lahan menjadi salah satu tahapan yang harus dipenuhi sebelum pembangunan dapat dilanjutkan.

Metode boring dipilih sebagai bagian dari pekerjaan penguatan tanah pada kawasan yang memiliki kerentanan terhadap pergerakan lereng.


Sementara itu, ahli struktur Dr T Ir Herry Ludiro Wahyono, ST, MT menjelaskan, peningkatan stabilitas tanah dilakukan berdasarkan hasil penelitian geoteknik yang telah berlangsung selama dua tahun terakhir. Dari kajian tersebut direkomendasikan pembangunan struktur penahan tanah berlapis menggunakan metode borpile.


"Ini adalah pematangan lahan merupakan upaya menghambat pergerakan tanah yang sudah diteliti oleh ahli geoteknik selama 2 tahun sehingga diperoleh kajian-kajian dan ditentukan agar tanah tetap stabil maka dibuat diding penahan 7 layer dengan metode borpile pada kedalaman 35-40 meter dgn diameter 1 – 1,2 meter," katanya.


Ia menjelaskan, hasil pengamatan menunjukkan risiko pergerakan tanah di kawasan tersebut meningkat ketika hujan dan air masuk ke dalam lapisan tanah yang bertemu dengan clay shale.


Kondisi itu dinilai dapat memicu pergeseran tanah sehingga diperlukan penguatan lereng sebelum pembangunan konstruksi utama dilakukan. (idy)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved