Senin, 25 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribunjateng Hari ini

Endang Bahagia Bisa Berbagi pada Biksu Thudong lewat Pindapata

Warga Kota Solo menyambut para biksu thudong dari berbagai negara dengan tradisi pindapata.

Tayang:
TRIBUN JATENG/Bram Kusuma
Tribun Jateng Hari Ini Senin 25 Mei 2026 

Juru Bicara Panitia Waisak Kota Solo, Pandita Mettasiri Sutrisno menambahkan, barang-barang hasil prosesi pindapata hari ini nantinya tidak semuanya dikonsumsi sangha, melainkan akan disumbangkan kembali kepada masyarakat luas yang membutuhkan bantuan.

"Jadi intinya berbagi, ketika biksu dikasih persembahan, ada sebagian untuk para bhante seperti minuman yang bisa dibawa perjalanan, juga kita akan berbagi kepada yang membutuhkan," ujaer Mettasiri. 

Istirahat

Sementara itu, di Kota Semarang, sejumlah biksu beristirahat di pelataran depan Masjid Al Falah, Jalan Kaligawe, pada Minggu siang, setelah berjalan kaki menempuh jalur pantura dari Jepara.

Mereka duduk di bawah tenda tratak di depan masjid untuk memulihkan tenaga sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Pada pukul 15.00, para biksu sudah kembali melanjutkan perjalanan melintasi jalan pantura Kaligawe. 

Rombongan biksu thudong itu tengah menjalani perjalanan spiritual menuju Candi Sewu, Klaten, menjelang perayaan Waisak.

Perjalanan dimulai dari Candi Sima, Donorojo, Jepara, pada 20 Mei lalu, dan dijadwalkan tiba di Klaten, pada 30 Mei mendatang.

Salah satu peserta, Nyanakaruno Mahathera (60) mengaku, jalur pantura menjadi tantangan tersendiri bagi rombongan karena suhu panas yang cukup menyengat.

"Ini trek yang luar biasa karena sangat panas sekali. Makanya, kami banyak berhenti," katanya, saat ditemui Tribun Jateng di depan Masjid Al Falah.

Dia mengatakan, cuaca panas membuat perjalanan harus dilakukan lebih perlahan.

"Karena ini kan kami bukan mau mengejar sampai cepat, kalau jam berapa sampai berapa,” ujar Nyanakaruno, yang merupakan peserta paling senior dalam rombongan biksu thudong tersebut.  

Perjalanan thudong kali ini diikuti biksu dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Sumatra Utara, Jawa Barat, Jawa Timur, hingga Papua.

Selain berjalan kaki, rombongan juga mendapat pendampingan dari relawan lintas komunitas dan agama.

“Selain ritual spiritual, perjalanan itu juga membawa pesan kemanusiaan dan toleransi. Makna perjalanan dan juga bagaimana kita membangun rasa toleransi antar sesama dan juga membangun nilai-nilai sosial yang bisa kita kembalikan dengan cara yang benar," ujarnya.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved