Kulit Sampah Kok Dijadikan Minuman? Ini Kisah Marsiyem Hadapi Cemoohan. Kini Usahanya Menggurita
Di awal usahanya memproduksi kulit manggis menjadi produk minuman, Marsiyem sudah mengalami banyak kendala
Penulis: m zaenal arifin | Editor: muslimah
Kendalanya ya pemasaran. Sebenarnya kalau sewaktu panen, karena mengolah dalam jumlah banyak sehingga hasilnya juga banyak. Pertama memang hanya 5 kuintal, tapi tahun berikutnya sudah sampai 10 ton buah manggis, bahkan lebih.
Dalam produksi minuman, dibantu siapa?
Ada 35 tenaga yang membantu saya dalam proses pengolahan sewaktu panen dan 8 orang tenaga petik buah manggis. Di samping itu, saya juga memberdayakan warga dan kelompok yang kurang mampu atau miskin.
Bagaimana pemasaran minuman Maristhone saat ini?
Dari waktu 2015, pasaran Mariathone begitu cepat dan banyak dari Semarang, Jakarta, Yogyakarta, dan Magelang. Saya titipkan di toko-toko, juga saya ikut pameran-pameran. Saya sering diajak ikut pameran oleh Bappeda Purworejo, Dinas Koperindag, Dinas pertanian, Dinas pariwisata, dan KBPM. Bahkan saya pernah diundang mengikuti Pekan Nasional KTNA di Malang, Jatim.
Berapa modal awal dan omzet dari Maristhone sekarang?
Modal awal cuma Rp 10 juta. Karena manggisnya saya ambil dari lahan saya sendiri. Untuk omzet dari waktu 2013 dan 2014 mencapai Rp 10 juta sampai Rp 15 juta perbulan sampai sekarang. Itu hitungan bersih. Belum bisa berkembang karena memang terkendala soal pemasarannya. Ini karena saya tidak punya jaringan toko di luar kota.
Apakah sampai sekarang masih manual produksinya?
Masih manual, karena justru lebih cepat. Pakai mesin malah banyak gangguan, soalnya listrik di Somongari yang merupakan daerah pegunungan sering mati. Sebenarnya saya masih butuh peralatan ataupun modal, saya membutuhkan rak dagangan untuk dibawa setiap mengikuti pameran-pameran.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/pengusaha-produksi-minuman-maristhone-dari-kulit-manggis_20170403_080258.jpg)