Minggu, 19 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

CIRI-CIRI Kelompok Kurung Diri di Semarang, Wanita Harus Berjarit dan Pria Bawa Sarung

Dari penggerebekan, polisi mengamankan 43 orang yang diduga merupakan anggota kelompok tersebut.

TRIBUN JATENG/REZA GUSTAV
Saat Andi (baju hitam) pemimpin perkumpulan diduga penyimpangan kepercayaan diperiksa dan dimintai keterangan oleh Kompol Mulyadi, Kapolsek Pedurungan Polrestabes Semarang, beserta wartawan pada Kamis (15/2/2018) dini hari di Mapolsek Pedurungan. 

Baca: BREAKING NEWS, Polsek Pedurungan Amankan Warga Diduga Ajarkan Aliran Sesat di Palebon

Tak gubris datangnya tamu

Penggerebekan warga yang diduga menganut aliran sesat di sebuah rumah No 7 RT 1 RW 11 Palebon, Pedurungan, Semarang, Rabu (14/2) malam membuat gempar masyarakat sekitar.

Andi Rodiyono (63), seorang pemimpin kelompok yang juga pemilik rumah tersebut telah diperiksa oleh Polsek Pedurungan untuk penyelidikan lebih lanjut.

Andi Rodiyono memiliki kebiasaan yang janggal di mata warga sekitar. Penghuni rumah tersebut, tidak diizinkan bersosialisasi dengan warga sekitar.

Dari penggerebekan, polisi mengamankan 43 orang yang diduga anggota kelompok tersebut, termasuk si pemilik rumah, Andi.

Penggerebekan itu dilakukan polisi karena laporan warga sekitar yang resah akan aktivitas yang dilakukan anggota kelompok tersebut.

Dalam berpenampilan, anggota kelompok itu harus mengenakan jarit (kain batik) bagi perempuan dan sarung untuk laki-laki.

Lewat keterangan warga sekitar bernama Arifin, mereka yang tergabung kelompok tersebut harus mengikatkan jarit (perempuan) dan memakai sarung (laki-laki) dalam model apapun.

"Yang perempuan biasanya mengenakan jarit, meskipun sudah pakai celana maupun baju. Sedangkan, yang laki-laki harus mengenakan sarung, meskipun hanya disampirkan," tutur Arifin.

Warga menduga kelompok itu menerapkan aliran sesat karena tak mau bersosialisasi.

Tak hanya itu, para anggotanya pun dilarang keluar rumah untuk menjalankan aktivitas layaknya orang kebanyakan.

"Mereka tak mau bersosialisasi dengan orang lain di luar rumah. Bahkan pernah ada keluarga dari salah satu anggota yang datang, tidak dibukakan pintu hingga keluarga tersebut menangis karena tak bisa bertemu," papar Arifin.

Ia yang tinggal bersebelahan dengan kediaman Andi mengaku tak tahu aktivitas penghuni atau anggota kelompok itu.

Hal itu dikarenakan kondisi rumah tertutup rapat dengan pagar besi besar yang terpasang dengan sangat rapat dan menjulang tinggi.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved