Nilai Tukar Rupiah
Bisnis Apa yang Aman saat Gejolak Nilai Tukar Rupiah Anjlok?
Ketua Apindo Jateng Frans Kongi mengatakan, keperkasaan dolar membuat dunia usaha di Jateng semakin berat.
TRIBUNJATENG.COM - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat semakin melemah. Saat ini, kurs USD terhadap rupiah hampir menembus angka Rp 15 ribu. Spot penutupan perdagangan kemarin di angka 14.935 rupiah per dolar AS.
Kondisi ini tentunya mempengaruhi dunia usaha di Indonesia termasuk di Jawa Tengah. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng Frans Kongi mengatakan, keperkasaan dolar membuat dunia usaha di Jateng semakin berat.
Frans menyebut, yang membuat pengusaha di Jateng menjerit adalah tingginya biaya impor bahan baku.
"Bahan baku dibeli pakai dolar otomatis cost (biaya) lebih tinggi dikeluarkan untuk beli bahan baku," ujar Frans, Selasa (4/9).
Saat ini, kata Frans, 70 persen lebih bahan baku produksi di Jawa Tengah berasal dari impor. Bahan baku ini didatangkan dari luar negeri untuk memenuhi produksi barang kebutuhan baik di dalam negeri maupun luar negeri.
Bahan baku yang tidak diimpor, kata Frans hanya bahan baku kayu. "Cuma kayu saja yang tidak diimpor, selebihnya impor lebih dari 70 persen," katanya.
Meski menjerit lantaran harga bahan baku yang melonjak, namun eksportir bisa bernafas lega lantaran pembayaran produk ke luar negeri menggunakan dolar AS.
"Di lain pihak, kalau dibarengi dengan ekspor sedikit lumayan. Beli bahan baku pakai dolar, jualnya juga pakai dolar," katanya.
Frans menyebut kondisi nilai tukar rupiah yang fluktuatif seperti ini sudah terjadi sejak pemerintahan sebelumnya.
Meski semakin melemah, namun menurut Frans fundamental ekonomi Indonesia masih di batas aman.
Terlebih menurutnya data terakhir saat ini Indonesia mencatat inflasi yang hanya tiga persen. "Neraca pembayaran memang defisit, tapi masih dalam batas normal," katanya.
Namun Frans mewaspadai kondisi spekulan apabila dolar menembus angka Rp 15 ribu. Angka ini menurut Frans adalah batas akhir psikologis pelaku usaha dan spekulan lainnya. "Kalau sampai tembus di angka Rp 15 ribu, bisa bahaya. Spekulan akan bermain," katanya.
Frans berharap pemerintah mampu menstabilkan kembali nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika.
"Kami sementara mengakali dengan cara efisiensi, memanfaatkan waktu kerja. Semua sumber daya dimaksimalkan penggunaannya, listrik yang tidak perlu ya dimatikan. Semua serba efisiensi sekarang ini, tapi tidak akan sampai pada tingkat PHK karyawan," pungkasnya.
Untungkan eksportir
Pelemahan nilai tukar rupiah bagi sebagian orang menjadi berkah tersendiri. Salah satunya bagi mereka pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) atau pengusaha area Jawa Tengah yang sudah berorientasi ekspor.
Pelaku UMKM di Jawa Tengah Ershad menganggap pelemahan nilai tukar rupiah tidak justru menguntungkan bagi dia.
"Jadi kalau ekspor pembayarannya itu pakai dolar AS dan kalau nilai tukar Rp 12 ribu kami mengalami kerugian. Tapi kalau nilai tukar rupiahnya Rp 15 ribu kami merasa senang," terang Ershad, selasa (4/9).
Ershad selaku pengurus perusahan Zem Silver yang berlokasi di Desa Mijen, Kecamataan Kebonagung, Demak menggeluti usaha pembuatan pernak-pernik dari logam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/kegiatan-di-terminal-peti-kemas_20180906_075438.jpg)