Senin, 27 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Ngopi Pagi

FOKUS Khabib Vs Mcgregor: Patukan Elang Dagestan

Dua lelaki berhadap-hadapan di arena berpenyekat. Keduanya sepadan, sama kuat. Satu sekal dan liat. Satunya terlihat sedikit lebih gempal

Penulis: achiar m permana | Editor: Catur waskito Edy
tribunjateng/bram
Achiar Permana wartawan tribun jateng 

Saya yang menonton ulang tayangan laga McGregor vs Khabib lewat laman berbagi video Youtube, seperti sedang melihat pertarungan Werkudara dan Dursasana di Padang Kurusetra. Hingga Rabu (10/10/2019) pukul 23.30, atau tiga hari setelah laga, video itu telah ditonton 3.488.078 kali. Termasuk saya.

"Nek Sampean ora melu-melu nonton, berarti yang mung 3.488.077 kali ta, Kang," tiba-tiba Dawir nyeletuk lagi, dan tidak saya rewes sama sekali.

Pada hari keenambelas Perang Baratayudha, dua ksatria terkuat di kubu masing-masing bertemu di Padang Kurusetra. Werkudara, satria panenggaking Pandawa, beradu kekuatan dengan Dursasana, Kurawa paling sentosa. Pertemuan itu diwarnai saling sembur hinaan, saling lempar cacian.

Werkudara dan Dursasana, sejatinya, memiliki banyak kesamaan. Sama-sama ksatria urut kedua, Werkudara anak kedua pasangan Pandu Dewanata-Dewi Kunti, setelah Puntadewa. Dursasana lahir kedua, setelah Duryudana, dari seratus anak Destrarastra-Dewi Gendari.

Keduanya sama-sama bertubuh tinggi besar. Gagah perkasa. Bahkan, Dursasana selalu mengidentifikasikan diri sebagai "Werkudara" Kurawa.

Keduanya juga saudara tunggal guru. Sama-sama berguru pada Begawan Drona di Padepokan Sokalima. Keduanya sama-sama piawai memainkan senjata. Selain Kuku Pancanaka yang konon tujuh kali lebih tajam dari pisau cukur tertajam di dunia,

Werkudara memiliki Gada Rujakpala, yang bila dihantamkan pada musuh-musuhnya maka akan hancur berkeping-keping. Dursasana memiliki Trisula Brala, pedang bermata tiga, yang membuat Adipati Banjarjunut itu begitu nggembelo--adigang, adigung, adiguna--di medan laga.

Bima memiliki Aji Bandung Bondowoso, warisan Patih Gandamana, yang membuatnya bisa berlari secepat angin. Dia juga memiliki Aji Blabak Pangantol-antol yang membuat lawan lebur. Di sisi lain, Dursasana memiliki Aji Welut Putih, yang membuatnya selicin belut, tidak mudah ditangkap, tidak mudah dikalahkan.

Persamaan lainnya, keduanya kasar. Sama-sama bermulut kotor. Werkudara memiliki tutur kata kasar. Dia tidak kenal tatakrama, tidak pernah menggunakan bahasa halus kepada siapa pun, kecuali dengan Sang Hyang Wenang dan Dewa Ruci. Dursasana pun setali tiga uang. Mulutnya lemar, enteng menebar pisuhan, umpatan, dan juga hinaan.

Maka, klop, ketika keduanya bertemu di medan laga. Tumbu entuk tutup. Apalagi, mereka bertemu di Kurusetra dalam kondisi yang sama-sama "terluka", sama-sama berduka. Werkudara kehilangan Gatotkaca, yang tewas di tangan Karna, pada hari keempatbelas Baratayudha. Sebelumnya, Dursasana juga telah kehilangan Dursala, putra semata wayangnya, yang tewas di tangan Gatotkaca, beberapa hari sebelum meletus Baratayudha.

Saat bertemu, Dursasana langsung memanaskan suasana. Mulutnya melontarkan cela. "Kaukah itu Werkudara, wani-wanine ngadepi Dursasana? Apa wis kandel kulitmu? Apa wis atos balungmu? Kana, balik wae, menthil, apa ndhelik wae ning keleke bojomu!"

Telinga dan hati Werkudara panas mendengarnya. Tapi, dia mencoba menenangkan diri. Sikapnya siaga.

"Dasar anak perempuan hina, yang kelon dengan sembarang pria," sembur Dursasana.

"Jangankan hanya kamu, Werkudara. Panggil saja arwah bapakmu, Pandu, pecundang yang penakut itu untuk menghadapimu. Pencuri takhta Astinapura. Akan kuinjak-injak kepalanya dengan kakiku," terus saja Dursasana nyerocos, sembari mengangkat kaki kirinya tinggi-tinggi.

Demi mendengar nama ibunya dan ayah, yang amat dia hormati, diombal-ambil, disebut-sebut dalam hinaan Dursasana, amarah Werkudara tak bisa ditahan lagi. Tak mau kalah, mulutnya pun menyemburkan hinaan. Dia menyebut Destrarastra, ayah para Kurawa, sebagai orang buta yang tidak berguna.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved