Senin, 13 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Rajawali Foundation Latih Difabel Masuki Dunia Kerja atau Dunia Usaha, Dimulai dari Magang

Sebanyak 69 pemuda kurang mampu, rentan, dan difabel mengikuti program pelatihan kerja yang diselenggarakan oleh Rajawali Foundation.

Penulis: Jamal A. Nashr | Editor: suharno
TRIBUN JATENG/JAMAL A. NASHR
Dialog Nasional Ketenagakerjaan Inklusif di Wisma Perdamaian Semarang, Selasa (12/2/2019) 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sebanyak 69 pemuda kurang mampu, rentan, dan difabel memasuki dunia kerja.

Mereka merupakan pemuda yang berasal dari Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Demak.

Sebelumnya, mereka telah mengikuti program Strengthening Coordination for Inclusive Workface Development in Indonesia (Sinergi).

Program ini merupakan hasil kerja sama antara Rajawali Foundation dan Pusat Transformasi Kebijakan Publik dengan USAID.

Selama setahun terakhir, sebanyak 445 pemuda dari keempat daerah tersebut mengikuti program ini.

Dari jumlah itu 423 pemuda berhasil lulus dan 69 di antaranya saat ini telah masuk dunia kerja atau merintis usaha.

Mereka merupakan pemuda umur 18-34 tahun yang diambil dari karang taruna, pesantren, komunitas difabel, dan lainnya.

"Hari ini menyampaikan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, capaiannya, hambatannya, kemudian harapan kedepannya. Karena kita tidak berharap ini selesai hanya setahun ini, tapi berlanjut lagi," kata Direktur Eksekutif Rajawali Foundation, Agung Binantoro, di sela acara Dialog Nasional Ketenagakerjaan Inklusif di Wisma Perdamaian Semarang, Selasa (12/2/2019).

KPU Kabupaten Pati Libatkan Para Difabel Untuk Merakit Kotak Suara Pemilu 2019

Sebelumnya, para pemuda ini telah mengikuti sejumlah pelatihan sesuai standart.

Mereka dilatih soft skill untuk membangun kepercayaan diri dan kemampuan berkomunikasi, hard skill sesuai dengan bakat dan minat mereka, dan pemagangan di bidang usaha.

"Kalau kita lihat yang tidak lulus presentasinya kecil, dari 445 yang lulus 423. Kebanyakan alasan keluarga, kita tidak bisa memaksa hal itu," ucapnya.

Menurutnya, hambatan saat melatih para peserta untuk memunculkan rasa percaya diri adalah mendobrak batas-batas yang terbangun dalam pikiran mereka.

Hal ini karena beberapa peserta program ini memiliki kebutuhan khusus.

"Untuk tampil saja bagi mereka sudah suatu kesulitan, dan teman-teman difabel ada yang baru pertama kali keluar dari lingkungannya. Ikut pelatihan lagi, ikut wawancara kerja. Jadi persoalan kita itu memberi mereka kepercayaandiri, memberi mereka fondasi untuk berani tampil," tuturnya.

Sementara, untuk mengasah kemampuan teknis peserta menurutnya lebih mudah.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved