Kepala Dinkes Jateng: Obat ARV untuk Penderita HIV/AIDS Sudah Ada di Puskesmas

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah menargetkan 90 persen Orang Dengan HIV/Aids (ODHA) mengonsumsi obat Antiretroviral (ARV).

Kepala Dinkes Jateng: Obat ARV untuk Penderita HIV/AIDS Sudah Ada di Puskesmas
TRIBUN JATENG/IDAYATUL ROHMAH
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dr. Yulianto Prabowo M.Kes saat memberikan sambutan pada Pelatihan Dukungan dan Pengobatan (PDP) HIV/Aids bagi petugas Puskesmas dan rumah sakit di Hotel Grasia Semarang, Senin (08/04/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah menargetkan 90 persen Orang Dengan HIV/Aids (ODHA) mengonsumsi obat Antiretroviral (ARV).

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dr Yulianto Prabowo M.Kes menuturkan, pelayanan obat ARV tidak hanya di rumah sakit, bahkan di Puskesmas juga melayani obat ARV.

"Sekarang sudah desentralisasi ARV di kabupaten/kota. Setiap pasien puskesmas atau rumah sakit sudah melayani pengobatan ini," jelasnya usai membuka Pelatihan Dukungan dan Pengobatan (PDP) HIV/Aids bagi petugas Puskesmas dan rumah sakit di Hotel Grasia Semarang yang berlangsung hingga Jumat, (12/04/2019).

Ia menyebutkan, di Jawa Tengah sudah ada 61 puskesmas yg melayani ODHA dengan ARV.

Pelayanan diperkirakan akan bertambah menjadi menjadi 77 Puskesmas.

"Harapannya orang yg ditemukan HIV positif segera dapat diobati dengan ARV di Puskesmas," terangnya.

Sebelumnya, Yulianto menjelaskan, ARV merupakan salah satu layanan pengobatan dari pemerintah yang didapatkan secara gratis untuk ODHA.

Bagi ODHA, ARV dapat dikonsumsi seumur hidup.

"Satu botolnya bisa habis satu bulan dengan kisaran harga Rp 600 ribu hingga Rp 700 ribu. ARV bisa dikonsumsi ODHA selama dia ingin hidup," lanjutnya.

Sementara itu, pengembangan pelayanan Puskesmas merupakan satu di antara upaya pencegahan yang dilakukan Dinkes Jateng dalam menangani kasus HIV/Aids di Jawa Tengah.

Sesuai target Dinkes Jateng dalam menyongsong 3 Zero di tahun 2030, yakni menurunnya kasus dengan jumlah terendah, menurunnya angka kematian terendah, dan menurunnya tingkat diskriminasi terendah.

"Temukan HIV dan OBATI (TOP), serta pertahankan pengobatan ARV," imbuhnya.(idy)

Penulis: Idayatul Rohmah
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved