Kisah Para Pedagang Bendera Merah Putih di Demak, Datang dari Ciamis Hingga Hidup ala Backpacker
Sepanjang Jalan Sultan Trenggono Kabupaten Demak nampak berbagai atribut bendera merah putih terpampang.
Penulis: Moch Saifudin | Editor: suharno
TRIBUNJATENG.COM, DEMAK - Sepanjang Jalan Sultan Trenggono Kabupaten Demak nampak berbagai atribut bendera merah putih terpampang.
Tepatnya mulai dari depan Kampus Universitas Sultan Fatah (Unisfat) Demak hingga Terminal Demak.
Sekitar sembilan lapak bendera merah putih berderet di jalan sekitar Alun-alun Demak sejak sebelum bulan Agustus 2019.
"Di jalur lambat sekitar depan sanggar pramuka ada tujuh lapak dan dua lapak di sekitar depan terminal," jelas pedagang atribut untuk menyambut hari jadi Republik Indonesia, Yana (37), Sabtu (3/8/2019).
• Update Jumlah Korban Gempa Banten Jadi 5 Orang, BNPB: Karena Serangan Jantung Hingga Terpeleset
Warga asal Ciamis ini mengaku berangkat dari kampungnya tanggal 28 Juli dan sampai di Demak pada dini hari 29 Juli 2019.
Dalam berjualan atribut agustusan, ia mengaku sudah sepuluh tahun, di Solo dan di Demak.
Mulai bendera merah putih ukuran 90x60 hingga ke ukuran besar sewajarnya bendera, ia jual.
Selain itu, juga ada umbul-umbul dan background merah putih.
"Jualan di Demak sudah sekitar lima tahunan, sambil jalan-jalan. Bari ngojai nginum cai atau sambil menyelam minum air," terang pria yang kesehariannya bekerja di bengkel dinamo tersebut.
Ia merasa senang berjualan atribut agustusan. Ia mengaku senang lantaran bisa keliling daerah sesuai yang diperbolehkan atasannya.
Bisnis yang ia geluti pun, terbilang tanpa resiko. Setiap barang yang sisa, bisa ia kembalikan lagi ke orang yang ia sebut bos.
"Biasanya saya kalau malam mancing di Sayung, dan juga ziarah ke Makam Sultan Fatah dan Kadilangu," terangnya.
• Cara Membuat Mata Terlihat Lebih Putih dan Sehat, agar Penampilanmu Terlihat Lebih Segar
Ia mengklaim menjual bendera dengan kualitas lebih bagus di antara lapak lain selain groupnya.
Tentu dengan harga yang selisih lebih tinggi Rp 5000. Bendera ukuran 90x60 cm ia jual seharga Rp 15000.
Dirinya tidak datang sendiri ke Demak, tetapi berangkat bersama tujuh orang temannya satu kampung.
"Sekitar 20 lapak lebih di sekitar jalan di Kabupaten Demak. Kalau ada orang yang mengira barang yang saya jual ngotot terlalu mahal, mending saya kasihkan secara gratis dan ikhlas. Daripada dikira mengambil harga terlalu tinggi," jelasnya.
Ia menyebut, dengan berjualan bendera ia selalu ingat jasa pahlawan.
Ia menyebut tanpa jasa pahlawan ia tak mungkin bisa berjualan bendera.
Oleh sebab itu, ia mengaku merasa senang jika orang-orang ikut memasang atribut hari kemerdekaan.
"Sebelum berangkat pun, kami bertujuh juga tanpa diminta memberikan bendera seikhlasnya ke beberapa tetangga," akunya.
• Fokus : Kembali Bermimpi ke Piala Dunia
Dalam satu hari, lanjutnya, ia mengaku hanya mendapatkan pembeli tiga sampai lima orang.
Disampaikannya, ada pelanggan yang beli banyak, ada pula yang sepotong atau dua potong.
Sebelumnya, nampak petugas menggunakan mobil pick up bertuliskan Patroli Kodim 0716.
Ia mengaku telah mendapat pesanan dari Kodim 0716/Demak.
"Kodim Demak habis beli tiga background merah putih di saya. Lalu ini tadi pesan lagi bambu, tapi saya tidak punya," jelasnya sambil tersenyum senang.
Ia mengaku dalam berbisnis bendera tersebut sebagai sarana refreshing. Ia menjelaskan, ongkos tempat tinggal sudah ditanggung oleh bosnya.
Ia pun mengaku selama ia berjualan bendera, paling banyak mendapatkan laba bersih Rp 2 juta dan paling sedikit Rp 500 ribu.
"Paling sedikit dapat gopek. Tapi itu kan udah bersih. Selain itu niatnya juga jalan-jalan. Bisa dikalkulasi kalau semua dengan biaya sendiri. Transportasi, kos, makan dan lainnya. Sebetulnya saya ingin ke Karimun Jawa tapi tidak mendapat izin bos," terangnya.
Selama lima tahun di Demak, ia pun mengenal berbagai tempat, seperti halnya makam Syeikh Mudzakir, Pantai Morosari, dan lainnya.
Selain itu, kebiasaan yang ia nilai bagus, ia berusaha terapkan di kampungnya.
Ia menyebut seperti halnya memberikan buka puasa kepada orang yang berpuasa.
"Saya ketika di rumah juga memberikan takjil bersama karang taruna kepada orang-orang yang berpuasa. Kebiasaan itu saya dapatkan dari Jawa. Sekarang, ibu-ibu di kampung saya sudah tahu pahalanya memberikan makan ke orang yang berpuasa saat berbuka," jelasnya.
Ia bercerita Agustus tahun 2019 tidak bertepatan dengan bulan Ramadan melainkan bulan mendekati Idul Raya Adha.
Ia mengaku pada tanggal 16 Agustus pun masih ada yang membeli. Ia berjualan dari pukul 06.30-17.30 WIB.
"Intinya jam berangkat dan pulang kerja," terangnya. (Tribunjateng/Moch Saifudin)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/nampak-atribut-merah-putih-di-sepanjang-jalan-sultan-trenggono-kabupaten-demak.jpg)