Sebelum Meninggal Tertabrak Kereta Api di Semarang, Biyani Sempat Makan Nasi dan Perkedel
Seorang nenek yang terserempet kereta api di perlintasan tanpa palang pintu belakang Pasar Karangayu, Karangayu, Kecamatan Semarang Barat, Kota
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: muh radlis
Beberapa lama setelahnya tukang sayur bilang, 'Mbah yang biasa makan di warungmu tertabrak kereta', saya langsung cek kondisinya sudah tidak ada," kata dia.
Yitno lantas bercerita, nenek yang pagi itu mengenakan Jarit dan baju putih dengan penutup kepala yang biasa dikenakan itu memang jarang mengobrol meskipun seringkali ke pasar.
Ia pun mengisahkan, nenek tersebut pernah berjualan bolang-baling.
Tak lama setelah berjualan bolang-baling beralih berjualan kentang, dan pernah juga pakaian.
Namun setelah kondisinya tidak memungkinkan untuk berjualan, nenek tersebut hanya mondar-mandir ke pasar dalam keadaan linglung.
Berdasarkan keterangan Sih, penjual buah, nenek tersebut ke pasar untuk meminta-minta.
Namun Yitno menuturkan, nenek tersebut membawa uang untuk membeli meskipun terkadang seikhlasnya.
"Mbahe kalau beli kadang sesuai harga, kadang seikhlasnya.
Kasian kan sudah tua. Banyak yang bilang anak-anaknya sukses di Jakarta, tapi mbahe seolah terlantar," katanya.
Sementara itu terkait kejadian yang menewaskan Nenek tersebut, Yitno membeberkan, dalam waktu 12 hari ini sudah ada dua korban.
Selain kejadian pagi tadi, kata dia, Jumat lalu juga terjadi kejadian serupa.
"Sering terjadi kecelakaan di perlintasan situ. Jumat malam kemarin itu jam 9 malam sampai badannya remuk," katanya.
Yitno dan warga lainnya lantas meminta pemerintah untuk segera menangani perlintasan tanpa palang pintu tersebut agar tidak ada korban selanjutnya.
"Kalau bisa dikasih terowongan atau jembatan layang agar tidak menimbulkan korban jiwa," ujarnya. (idy)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/serempet-kerteta-idy.jpg)