Pemkot Semarang Tutup Lokalisasi Sunan Kuning, Bambang Iss: Kota Ini Bakal Kehilangan Sejarahnya
Menurut sejarawan dan penulis buku Ough! Sunan Kuning (1966-2019), Bambang Iss Wijaya, penutupan resos Argorejo untuk menutupi 'wajah' Pemkot.
Penulis: faisal affan | Editor: suharno
Karena meresahkan warga sekitar, maka Pemkot memfasilitasi mereka di lokasi yang jauh dari kota.
Maka dipilihlah lokasi ini," jelas Bambang.
Sebelum bernama Resosialisasi Argorejo, pada tahun 1966 lokalisasi tersebut bernama Sri Kuncoro.
Tapi karena warga Sri Kuncoro keberatan dengan nama tersebut, maka diubah menjadi Sunan Kuning.
"Nama Sunan Kuning (SK) diambil dari nama petilasan ulama muslim berdarah Tionghoa yang pernah menyebarkan agama islam di tempat ini.
Tapi berjalannya waktu, kalangan masyarakat muslim di Kota Semarang keberatan.
Karena menggunakan nama petilasan untuk tempat prostitusi.
Akhirnya diganti lagi menjadi Resos Argorejo," beber dia.
Nama tersebut akhirnya didaftarkan ke Pemkot Semarang untuk mendapatkan legalitas yang akhirnya bisa diresmikan oleh Walikota Semarang saat itu.
Pada tahun 1981, ada beberapa warga resos Argorejo yang mulai membubarkan diri.
Akhirnya mereka pindah lokasi di wilayah Simpang Lima Semarang yang kemudian dikenal dengan nama ciblek.
"Ciblek di Simpang Lima cara menjajakannya dengan menawarkan teh poci.
Misal saya penjual minumannya, para PSK ini yang menawarkan minuman tersebut," katanya.
Ciblek di Simpang Lima dirasa oleh sebagian warga meresahkan dan Pemkot diminta untuk memindahkan mereka.
"Ada sebagian yang kembali ke resos Argorejo, sebagian lainnya akan dipindah ke lokasi yang ada di Pudak Payung.