Masyarakat Antikorupsi Indonesia Gelar Aksi Ruwatan di Pengadilan Negeri Semarang

Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI) menggelar kegiatan aksi damai di Pengadilan Negeri Semarang.

Masyarakat Antikorupsi Indonesia Gelar Aksi Ruwatan di Pengadilan Negeri Semarang
TRIBUN JATENG/HESTY IMANIAR
Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI) menggelar kegiatan aksi damai, dengan tema Penyampaian Aspirasi Pengadilan Simbol Keadilan dan Ketauladanan Patuh Hukum di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Selasa (13/8/2019). 

TRIBUNJATENG.COM - Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI) menggelar aksi damai Bertema Penyampaian Aspirasi Pengadilan Simbol Keadilan dan Keteladanan Patuh Hukum di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Selasa (13/8/2019).

Diikuti, kurang lebih 30 orang aktifis anti korupsi dari Semarang, Blora, Demak, Tegal, dan Solo Raya, aksi tersebut diawali dengan pembacaan Yasin Tahlil, dan doa, yang dipimpin oleh santri dari Demak.

"Adapun, juga acara kali ini digelar pementasan wayang ruwatan singkat, dengan durasi 15 menit oleh Dalang Ki Romo Hartono dan Ki Endro dari Solo, dan Dalang Peyimping Ki Sigid," kata, Ketua MAKI, Boyamin Saiman.

Kader JKN-KIS Bakal Datangi Peserta BPJS Kesehatan yang Menunggak Iuran

Selain itu, dalam aksi damai juga dilengkapi dengan wayangan, seperti gunungan, wayang Kresno, dan wayang Sengkuni.

Dimulai dengan Suluk, sembari sambil memindahkan Gunungan dari tengah ke ujung kanan belakang Kresno.

Dalam peragaan tersebut, Sengkuni menyampaikan, jika selama menjabat, telah berlaku tidak adil dan korup, kemudian ingin bertobat minta diruwat.

Kresno pun, untuk menghilangkan sial dan dosanya, Kresno tidak bersedia karena Sengkuni berbuat korupsi.

"Yang bisa diruwat hanya orang sukerta karena keadaannya seperti anak tunggal. Dalam cerita wayang ini, dalang juga memasukkan wayang raksasa dan dipasang di belakang Sengkuni, sekaligus membaca narasi bahwa wayang raksasa sedang mencari mangsa dan setelah mengetahui keberadaan Sengkuni akan hendak memakan," ujarnya.

Ia pun kembali menyampaikan kembali, Kresna memberi pilihan kepada Sengkuni dengan beragam cara, seperti mati dimakan raksasa, atau dibakar.

"Namun, akhir dalam cerita wayang di aksi damai kita ini, Sengkuni dari Suluk sebisanya dilanjutkan memberikan apresiasi kepada Sengkuni yang akhir masa hidupnya bertobat dan bersedia berkorban demi kehidupan yg lebih baik bagi masyarakat banyak," bebernya.

Bawaslu: Pengawasan Pilkada Serentak di Jateng Diberlakukan Sama Tanpa Melihat Kerawanan Daerah

Lebih lanjut, Boyamin menekankan, bahwa aksi dan inti dari wayang tersebut, adalah semata-mata, berdoa dan memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk memberikan karunia kepada Pemerintah Indonesia dan Penegak Hukum untuk selalu menjadi teladan untuk tegaknya hukum.

"Selain itu, juga tegaknya keadilan demi terwujudnya pemerintahan bersih bebas KKN dan tercapainya kesejahteraan rekyat. Apalagi PN ini wujud hukum yang ada, sehingga, haru menegakkan keadilan," pungkasnya. (hei)

Penulis: hesty imaniar
Editor: suharno
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved