Rabu, 27 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Ngopi

Fokus : Luweng untuk Gandamana

Bambang Kumbayana, yang pada masa tuanya kita kenal sebagai Begawan Drona, pernah merasakan sikap keras dan tanpa kompromi Gandamana.

Tayang:
Penulis: achiar m permana | Editor: Catur waskito Edy
tribunjateng/bram
Achiar Permana wartawan tribun jateng 

Oleh Achiar M Permana

Wartawan Tribun Jateng

KOCAP kacarita, Raden Gandamana seorang ksatria berwatak keras. Nyaris tanpa kompromi.

Seorang Bambang Kumbayana, yang pada masa tuanya kita kenal sebagai Begawan Drona, pernah merasakan sikap keras dan tanpa kompromi Gandamana.

Pada suatu hari, Kumbayana yang merupakan saudara angkat Prabu Drupada, raja Kerajaan Pancala, datang. Gandamana tak lain ipar Drupada. Kakak perempuan Gandamana, Gandawati, istri Drupada

Sebenarnya, Gandamana merupakan ahli waris sah takhta Kerajaan Pancala. Dia putra lelaki Prabu Gandabayu, raja Pancala. Namun, karena ingin mengabdi pada Prabu Puntadewa, raja Astina yang juga ayah para Pandawa, dia menyerahkan takhta Pancala kepada sang ipar.

Nah, ketika itu, Kumbayana datang dengan sikap kurang sopan, untuk tidak dibilang kurang ajar. Dia memanggil-manggil nama kecil Drupada, yaitu Sucitra. Dengan tidak hormat.

"Sucitra, Sucitra, keluarlah. Mengapa kau tidak menyambutku. Aku Kumbayana, teman lamamu," teriak Kumbayana.
Rupanya, tidak satu pun pengawal maupun rakyat Pancala yang tahu siapa Sucitra. "Hei, Sucitra, apa kau sudah melupakan saudaramu?" Kumbayana masih berteriak-teriak di dalam istana.

Demi mendengar teriakan orang tidak dikenal di depan istana, dengan cara yang tidak sopan pula, Gandamana meradang. Baginya, orang yang tidak mengenal tatakrama itu perlu diberi pelajaran.

Singkat cerita, dia pun menghajar Kumbayana hingga wajah tampannya hancur berantakan. Tubuhnya yang gagah pun rusak. Dia menjelma pria buruk rupa, bertampang seperti orang tua, yang di kemudian hari kita kenal sebagai Drona.

Gandamana merupakan tokoh asli Jawa, kreasi para pujangga Nusantara. Dia tidak ada dalam wiracarita Mahabarata versi India.
Gandamana bertubuh sentosa, serupa dengan penegak Pandawa: Werkudara. Dia juga digambarkan mirip Antareja atau Anantareja, putra Werkudara dari Nagagini. Seperti Antareja, Gandamana juga wayang asli Jawa, yang tidak ada dalam babon cerita Mahabarata versi India.

Sekilas, wajah dan perawakannya juga mirip Gatotkaca, anak Werkudara dari Arimbi. Konon, ketika jabang Tetuka, nama kecil Gatotkaca, lahir berujud raksasa, oleh dewa diceburkan ke Kawah Candradimuka. Saat itu, para dewa mengambil raga Gandamana, yang telah hidup di surga, sebagai bentuk tubuh Gatotkaca.

Sikap keras Gandamana juga terlihat ketika dia menjadi patih di Astinapura. Dia menjadi pembantu yang amat diandalkan Prabu Puntadewa. Dia bertugas menjaga agar para aparatur Astina melaksanakan kewajiban sesuai tugasnya, berperilaku bersih. Tidak mengambil yang bukan haknya. Siapa pun yang melanggar sumpah jabatan, akan berhadapan dengan Gandamana.

Gandamana juga andalan Puntadewa, ketika menghadapi para musuh yang mengusik. Sebagai ksatria pilih tanding, pemilik sejumlah ajian sakti--Bandung Bondowoso, Wungkal Bener, Sepi Angin, hingga Kalung Robyong--tak mengenal jeri. Siapa pun, bakal dihadapinya demi membela negara.

Kinerja Gandamana memang memikat hati Prabu Pandu. Rakyat Astinapura juga mengaguminya.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved