Ngopi
Fokus : Luweng untuk Gandamana
Bambang Kumbayana, yang pada masa tuanya kita kenal sebagai Begawan Drona, pernah merasakan sikap keras dan tanpa kompromi Gandamana.
Penulis: achiar m permana | Editor: Catur waskito Edy
Namun, di mana pun orang baik selalu memiliki musuh. Begitu pula Gandamana. Sengkuni, yang diam-diam mengincar kursi patih Astinapura, salah seorang yang sejak lama menyimpan niat untuk melenyapkan Gandamana.
Singkat cerita, Sengkuni merancang siasat untuk menyingkirkan Gandamana. Dia menyampaikan kabar palsu, mengenai musuh yang memasuki perbatasan Astinapura. Saat mendengar laporan itu, Pandu mengirim Gandamana ke perbatasan untuk mengecek dan sekaligus mengatasi musuh.
Gandamana--juga Pandu--tak menyadari, Sengkuni telah menyiapkan siasat culas. Di tengah hutan, para prajurit Sengkuni mengepung Gandamana. Mereka, atas perintah Sengkuni, telah menyiapkan sebuah luweng, lubang jebakan, untuk mengubur Gandamana.
Lubang jebakan itu tertutup ranting dan daun-daunan. Gandamana pun terperosok.
Tak cukup itu, para prajurit setia Gandamana pun menimbuni lubang itu dengan batu-batu besar.
Hari-hari ini, kita tengah berhadapan dengan cerita serupa dengan kisah Gandamana. Sosok Gandamana itu hadir dalam wujud Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Serupa Gandamana, setidaknya bagi saya, KPK juga sosok yang keras hati dan tanpa kompromi. Tak heran, KPK juga memiliki banyak musuh, yang menyiapkan 1001 siasat untuk melemahkan. Atau, kalau perlu, melumpuhkannya.
"Iya, ya, Kang. Kalau dirasak-rasakke, kok ya pancen mirip," celetuk Dawir, sedulur batin saya, yang tumben unjuk persetujuan.
Revisi Undang-Undang KPK, yang berlangsung cepat dan senyap di DPR, oleh banyak pihak disebut sebagai upaya pelemahan komisi antirasuah itu. Begitu juga hiruk pikuk pemilihan pimpinan KPK periode 2019-2023, yang salah satunya membuat sosok kontroversial, yang dinyatakan telah melanggar kode etik berat, terpilih.
Tak kurang, para pimpinan KPK periode 2015-2019, minus Alexander Marwata yang terpilih kembali, menyerahkan mandat kepada Presiden Joko Widodo, sebagai reaksi "protes" atas pelbagai upaya yang mereka anggap melemahkan KPK. Ketua KPK, Agus Rahardjo menyatakan, saat ini KPK diserang dari berbagai sisi, khususnya menyangkut revisi UU KPK. Ia menilai, KPK tidak diajak berdiskusi oleh pemerintah dan DPR dalam revisi tersebut.
"Oleh karena itu setelah kami mempertimbangkan situasi yang semakin genting, maka kami pimpinan sebagai penanggung jawab KPK dengan berat hati, kami menyerahkan tanggung jawab pengelolaan KPK ke Bapak Presiden," kata Agus dalam konferensi pers, Jumat (13/8/2019).
Ini bukan kali pertama KPK mengalami upaya pelemahan. Sejak kasus Cicak versus Buaya jilid I (2008) hingga kini upaya pelemahan itu telah berlangsung berjilid-jilid. Bertubi-tubi.
KPK seperti Gandamana yang dijebloskan ke dalam luweng, dan kemudian ditimbuni batu-batu besar tanpa henti.
"Kalau Gandamana punya Ajian Bandung Bandawasa, yang dengan sekali sentakan, bisa membuat batu-batu yang menindihnya hancur berantakan. La KPK punya apa, Kang?" timpal Dawir.
Yang jelas, KPK memiliki kita, rakyat yang menginginkan Indonesia bersih bebas korupsi. Kini saatnya, kita bergandeng tangan menjelma Ajian Bandung Bandawasa, yang bisa membuat KPK keluar dari luweng, keluar dari upaya pelemahan dan pelumpuhan.
"Halah, gayaem, Kang!" celetuk Dawir, yang seketika membuat saya mak-klakep. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/achiar-m-permana_20170811_073817.jpg)