Pedagang Eceran Mengeluh Larangan Pembelian Pertalite Menggunakan Jeriken
Pembatasan pembelian Pertalite dengan jeriken di SPBU membuat pedagang BBM eceran mengalami penurunan transaksi penjualan.
Penulis: rival al manaf | Editor: muh radlis
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pembatasan pembelian Pertalite dengan jeriken di SPBU membuat pedagang BBM eceran mengalami penurunan transaksi penjualan.
Bukan hanya itu, peredaran bahan bakar beroktan 90 itu kini juga hilang dari kalangan pelapak pinggir jalan.
Hal itu setidaknya tergambar dari pantauan Tribun Jateng di sepanjang Jalan Bumirejo Raya hingga Grafika Raya Banyumanik Semarang.
Ada empat pedagang BBM eceran yang bisa ditemui jika melintasi jalur tersebut.
Semuanya sudah tidak lagi menyediakan Pertalite.
"Sudah nggak ada, nggak boleh dijual bebas katanya sekarang Pertalite," terang salah satu pemilik lapak Eva Andriani.
• IPAL di Kelurahan Ngijo Gunungpati Keluarkan Bau Tak Sedap, Dony Sebut Seperti Kotoran Manusia
• Begini Keseruan Ganjar saat Kunjungi Desa Wisata Taman Bambu Baturraden Banyumas
• Instruksi Wajib Wali Kota Dedy Yon, Musim Hujan Pejabat Harus Sedia Jas Hujan dan Sepatu Bot
• 128 Peserta Diklat Satpam Gada Pratama di Purworejo, 12 Diantaranya Wanita
Kini ia hanya menyediakan BBM jenis Pertamax dan sebagian kecil Premium.
Sedikit berbeda dialami Rahmat Susanto (67) yang memiliki kios di Jalan Grafika Raya ia kini hanya bisa menyediakan Pertamax.
"Premium mau nyari kemana lagi banyak SPBU yang sudah nggak nyediain premium.
Sekarang ya jualnya Pertamax saja," imbuhnya.
Dengan menjual Pertamax dengan harga Rp 11 ribu per liter kini omsetnya disebut menurn drastis.
Menurutnya jarang pengguna jalan yang mengisi bahan bakar kendaraanya denga BBM jenis itu.
"Orang-orang carinya yang murah, kalau ada Premium pasti cepet laku," terang pria yang sudah lima tahun menjual BBM secara eceran itu.
Ia mencontohkan dahulu sebelum ada Pertalite, ia menyediakan Premium dan Pertamax.
Dalam sehari ia bisa menjual sekitar 70 liter.