Peternak Lebah Madu di Alas Roban Ini Tiap Musim Panen Mampu Hasilkan Rp 150 Juta

Bisnis ternak lebah madu ternyata mampu menghasilkan pundi rupiah yang cukup menguntungkan.

Peternak Lebah Madu di Alas Roban Ini Tiap Musim Panen Mampu Hasilkan Rp 150 Juta
TRIBUN JATENG/DINA INDRIANI
Peternak lebah Sutaro sedang memanen madu di salah satu lahan produksi di Subah, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Jumat (1/11/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Bisnis ternak lebah madu ternyata mampu menghasilkan pundi rupiah yang cukup menguntungkan.

Maka tak heran, tak sedikit warga di Kabupaten Batang yang memilih menjadi peternak madu dan berlomba-lomba untuk mencari sela lahan hutan untuk membudidayakan lebah madu.

Bahkan hampir sebagian hutan karet di wilayah Alas Roban cukup banyak ditemui kotak sarang lebah.

Seperti yang dilakukan, Sutarno warga Gringsing ini telah menggeluti bisnis ternak lebah madu selama dua tahun terakhir.

Meski terbilang cukup baru di dunia bisnia lebah madu, namun Sutarno sudah mencicipi hasil yang cukup menguntungkan.

Sutarno mengungkapkan dari hasil peternakan yang dikembangkan, selama musim panen mampu menghasilkan Rp 150 Juta.

Haryanto Berusaha Hindari Razia, Tapi Lega saat Tahu Pelanggar Disidang di Tempat

Firdi Sebut Jawa Tengah Urutan ke 4 Jumlah Investor Terbanyak di Indonesia

Kisah Pilu Rudiyoko, 27 Tahun Jadi Sopir Bus dalam Kota Hanya Bawa Pulang Rp 30 Ribu Tiap Hari

Hendi Minta Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang Perbanyak Beli Buku yang Up to Date

"Alhamdulillah kalau selama musim panen bisa dapat Rp 150 Juta, itu sekitar 170 kotak," ujarnya.

Dijelaskannya, satu kotak sarang madu bisa menghasilkan satu sampai dua kilogram madu.

Dengan harga jual Rp 60 Ribu - Rp 70 Ribu perkilogram untuk madu karet, sedangkan madu kapuk Rp 80 Ribu - 90 Ribu perkilogram.

Sedangkan musim panen untuk ternak madu yaitu pada bulan Juni hingga Desember.

Sutarno mengaku menjadi peternak madu harus memiliki ketelatenan, dan kesabaran.

Selain rutin mengecek kondisi kotak sarang madu juga harus berpindah-pindah lokasi agar mendapatkan tanaman penghasil nektar dan pollen yang cukup banyak.

"Di wilayah alas roban ini kebanyakan hutan karet, makanya madu karet tapi kami sebut madu alas roban.

Kalau untuk pindah lokasi, sampai sekarang saya sudah pindah kurang lebih 15 lokasi," ujarnya.

Madu hasil ternak Tarno ini juga sudah menjadi salah satu pemasok untuk kebutuhan Madu Pramuka Gringsing yanh menjadi pusat penjualan madu khas Batang. (din)

Penulis: dina indriani
Editor: muh radlis
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved