Bertemu dengan KH Cholil Nafis saat Bahas Cadar, Permadi Arya: Tadi Saya Mau Ngegas, Tapi Nggak Jadi
Permadi Arya mengaku ingin memberikan statemen pedas terkait isu pelarangan menggunakan cadar bagi PNS. Namun, niat tersebut ia urungkan.
Penulis: Ardianti WS | Editor: abduh imanulhaq
"cadar bukanlah indikator ketaqwaan dalam arti yang bercadar belum tentu lebih takwa dari yang pakai kerudung, karena ketaqwaan berasal dari hati dan ketaatan," ujar Cholil Nafis.
Namun, menurutnya cadar juga syariah.
"Namun jika dibilang bukan syariah juga tidak benar, kenapa? karena cadar itu memang dalam hukum islam ada yang masyhur ada yang ijtihadi, Imam Syafi'i imam Ahmad mengunakan cadar itu hukumnya wajib, sementara imam malik imam Ahmad mengatakan menggunakan cadar itu hukumnya sunnah," ujarnya.
Cholil Nafis mengatakan ada hal sunnah akan menjadi wajib jika takut kena fitnah.
"Sunnah akan menjadi wajib kalau itu takut fitnah, fitnah itu menimbulkan kerusakan, menimbulkan ancaman, dan menimbulkan kecurigaan," ujarnya.
Cholil menilai saat ini cadar justru dinilai menimbulkan kecurigaan.
"Dan sekarang yang terjadi sebaliknya, orang menggunakan cadar itu menimbulkan finah, maka secara sosiologi jika menimbulkan kerusakan maka diminta untuk membuka wajah," ujarnya.
Cholil menegaskan bahwa sebagian ulama menilai cadar merupakan syariah sehingga ada yang menyebut menggunakan cadar hukumnya wajib.
"Tetapi kalau bicara syariah dan menyebut itu bukan syariah itu salah, karena ada dalam islam yang sifatnya ijtihadi, ada ulama yang mengatakan wajib," ujarnya.
Setelah itu, Cholil membahas terkait ibadah dalam islam yang melarang perempuan menggunakan cadar.
"Apakah islam pernah melarang pakai cadar, pernah, karena pada saat haji itu dilarang menggunakan cadar, maka ada yang menyebut bahwa wajah bukan aurat karena dalam ibadah haji nggak boleh pakai cadar, dalam sholat tidak wajib menutup wajah," ujarnya.
Cholil Nafis mengatakan ia menghormati jika instansi meminta PNS membuka cadar.
"Misalnya ke kantor harus pakai sepatu, itu kan di wilayah kerapian, hanya saja komunikasi yang harus diperbaiki," ujarnya.
Cholil berharap agar persepsi masyarakat tidak menilai bahwa orang bercadar dianggap radikal.
Ia menambahkan bahwa saat ini orang bercelana jingkrang karena sebuah fashion.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/bertemu-dengan-cholil-nafis-saat-bahas-cadar-permadi-arya-tadi-saya-mau-ngegas-tapi-nggak-jadi.jpg)