BERITA LENGKAP: Mahfud Jelaskan 3 Wujud Radikalisme dan Aksi Teror Libatkan Milenial dan Perempuan

Sudah 30 orang ditangkap karena diduga terlibat dalam serangan bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, 13 November lalu.

BERITA LENGKAP: Mahfud Jelaskan 3 Wujud Radikalisme dan Aksi Teror Libatkan Milenial dan Perempuan
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD menjawab pertanyaan saat wawancara khusus dengan Tribunnews.com di Kantor Kemenkopolhukam, Jakarta, Selasa (19/11/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Sudah 30 orang ditangkap karena diduga terlibat dalam serangan bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, 13 November lalu.

Dari 30 orang itu, terdiri 3 orang meninggal dunia, 3 perempuan dan 24 laki-laki. Sebagian dari mereka masih berusia 20-40 tahun.

Kapolda Sumut, Irjen Pol Agus Andrianto menyebut mereka berasal dari kalangan milenial. Menanggapi hal itu, Menkopolhukam Mahfud MD mengatakan, ada tiga wujud radikalisme, yakni ujaran kebencian, jihad teroris, dan wacana. Ketiganya memiliki kebijakan untuk penindakannya masing-masing.

Hal tersebut diungkapkan Mahfud MD di Medan, Selasa (26/11). Dijelaskannya, radikalisme yang berwujud ujaran kebencian itu menganggap yang berbeda harus dilawan dan disalahkan. Radikalisme wujud jihad teroris, adalah bukan jihad yang benar karena biasanya (dilakukan dengan) membunuh, meledakkan diri.

"Yang ketiga, wacana. Mungkin yang Anda maksud adalah untuk banyak anak milenial, itu ada kebijakan sendiri-sendiri.

Untuk menindak yang ujaran kebencian biasanya disebut takfiri itu kan sudah ada undang-undang, ada fitnah, berita bohong, hoaks yahg sekarang banyak tersebar, penistaan, biasanya radikal dalam tahap ujaran kebencian. itu ada hukumnya," katanya.

Begitu juga terhadap pelaku jihad teroris dan wacana. Menurutnya, terhadap para milenial, penanganannya melalui pendidikan, sosialisasi, halakah-halakah, pertemuan, diskusi kemudian tentu melalui kurikulum di semua lembaga pendidikan.

"Itu yang kemarin dituangkan dalam SKB 11 pejabat itu ada yang tindakan hukum, pendidikan, agama, ada yang sosial dan macam-macam. Itu dalam rangka mengurangi radikalisme," katanya.

Mahfud menilai, saat ini radikalisme sudah mulai berkurang. Wacananya, kata dia, sudah dicounter sejak pemerintahan baru terbentuk.

"Kemudian tindakan-tindakan yang sifatnya jihadis, yang sifatnya bom, sekarang sudah berkurang. tahun 2019 hanya ada beberapa kasus. Tapi 2017, 2018 kan banyak," katanya.

Halaman
1234
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved