Umur Hampir Seabad, Kalimah Masih Eksis Membatik Tegalan
Di tengah pekarangan yang dipenuhi pepohonan, seorang nenek terlihat asyik memegangi canting sembari menginang.
Penulis: Fajar Bahruddin Achmad | Editor: muh radlis
Menurut Kalamah, hasil karyanya sebagai pengrajin batik tulis tegalan tidak menjamin selalu ada.
Jika tidak ada pemesan, biasanya batik buatannya ia simpan.
Kadang ia harus meminjam uang tetangga terlebih dahulu untuk membuat batik.
Ia harus memastikan kain batiknya tetap menggunakan kain primis yang nomer satu.
Kemudian ia juga harus membeli malam seharga Rp 32 per kilogram.
"Saya tidak menjual batik di toko- toko.
Kalau ada yang mau pesan biasanya langsung datang ke rumah.
Tapi saya minta uang muka dulu buat beli bahan batik sama kinang," ungkapnya.
Selain Kalimah, ada juga seorang nenek pengrajin batik tegalan bernama Wasih (85).
Ia pun sama, membatik untuk mengisi kesenggangan di hari tua dan membeli kinang.
Wasih mengatakan, satu kain batik bisa ia selesaikan dalam setengah bulan.
"Timbang mengantuk, mending saya membatik.
Tapi kadang menjelang siang, saya berhenti dulu, masak gembus dan sayur buat makan cucu," ungkapnya.
Wasih mengatakan, mesti tidak banyak pemesan, namun uang hasil membatik cukup untuk membeli kinang, teh dan gula.
Ia biasanya menerima pesanan untuk calon pengantin.
Dalam satu paket ada tapih dan sarung dengan harga Rp 650 ribu.
Tapih seharga Rp 350 ribu dan sarung Rp 300 ribu.
"Dari pada minta uang ke anak untuk membeli kinanh, mending saya membatik.
Kalau tidak ada pesanan, ya batik- batiknya saya simpan," ungkapnya. (fba)