Umur Hampir Seabad, Kalimah Masih Eksis Membatik Tegalan
Di tengah pekarangan yang dipenuhi pepohonan, seorang nenek terlihat asyik memegangi canting sembari menginang.
Penulis: Fajar Bahruddin Achmad | Editor: muh radlis
TRIBUNJATENG.COM, TEGAL - Di tengah pekarangan yang dipenuhi pepohonan, seorang nenek terlihat asyik memegangi canting sembari menginang.
Meski telah renta, tangannya masih lincah menggoreskan canting di kain primis membuat motif batik bernama jamuran.
Canting ia celupkan dalam malam yang panas, kemudian tanggannya menggoreskan kain perlahan dengan sedikit gemetar.
Nenek berusia 91 tahun itu akrab disapa Mbah Kalimah.
Ia tinggal di RT 02 RW 02 Kelurahan Kalinyamatwetan, Kecamatan Tegal Selatan, Kota Tegal.
Kalimah mengatakan, ia membatik sejak 66 tahun yang lalu, tepatnya sejak berusia 25 tahun.
Meski tidak seperti ketika muda, Kalimah senang mengisi hari- hari tuanya dengan membatik.
• Peringatan Hari Guru Nasional, Pemkab Demak Pasang KB Gratis Serempak di 14 Kecamatan
• Dewan Minta Pemprov Jateng Naikan Anggaran 3 Kali Lipat untuk Pembenahan Sarana Prasarana Sekolah
• Prof Supandi Dikukuhkan Jadi Guru Besar Bidang Hukum Undip
• Komisi C DPRD Kota Semarang : 1 Titik Bisa Sampai 7 Tiang, Merusak Estetika
"Orang seperti saya timbang tidur jadi penyakit, mending membatik dapat capek.
Itu pun saya lakukan di sela- sela membersihkan rumah, mencuci pakian, dan mencuci piring," kata Kalimah kepada tribunjateng.com, Kamis (28/11/2019).
Kalimah mengatakan, ada lima motif batik tulis yang bisa dibuatnya.
Yaitu motif batik jamuran, batik galaran, batik gribigan, batik beras mawur, dan batik cempaka putih.
Menurut Kalamah, biasanya pesanan datang dari orang- orang yang hendak menikah dan sunat.
Ia sendiri hanya melayani dua jenis pesanan, batik dalam bentuk tapih dan sarung.
"Harga satu batik Rp 350 ribu.
Tapi khusus tapih dengan motif batik cempaka putih harganya Rp 400 ribu," ungkapnya.