Ahli Ungkap Besaran Tegangan Listrik Petir dan Cara Meminimalisir Tersambar
Untuk menghantarkan arus ke bumi, petir cenderung memilih tempat terbuka, obyek yang tinggi, dan tonjolan
TRIBUNJATENG.COM - Seorang petani (54) asal Kampung Jangkar, Mekarwangi, Cariu, Bogor, Jawa Barat tewas tersambar petir kemarin sore (5/12/2019) sekitar pukul 17.00 WIB.
Peristiwa itu terjadi saat kondisi hujan lebat disertai petir di area persawahan, Lueweung Gede, Desa Mekarwangi.
Kapolsek Cariu, Kompol Asep Tatang mengatakan, korban tewan di tempat usai tersambar petir di pematang sawah.
Kasus tersambar petir bukan satu-satunya.
Di bulan Agustus lalu, 19 ekor ternak kerbau dan seorang pria di Medan juga meninggal karena tersambar petir.
Dalam artikel Sains Kompas.com edisi 27 April 2017, peneliti petir dari Sekolah Tinggi Elektro dan Informatika (STEI) di Institut Teknologi Bandung (ITB) Syarif Hidayat mengatakan, cara kerja petir berbeda dengan aliran listrik di rumah meski sama-sama membawa arus listrik.
"Petir berbeda dengan listrik di rumah karena dia tidak sabaran."
"Arus listrik di rumah kita mau mengantre dalam kabel."
"Petir tidak. Dia tidak peduli, maunya cepat-cepat sampai ke bumi," kata Syarif saat itu.
Untuk menghantarkan arus ke bumi, petir cenderung memilih tempat terbuka, obyek yang tinggi, dan tonjolan di permukaan bumi.
Obyek tinggi bisa berupa tiang ataupun pohon.
Adapun tonjolan bisa berupa bukit atau gunung, manusia, hewan, dan bangunan yang berada di tempat terbuka.
Jadi, orang yang berada di tengah sawah, bermain bola di lapangan, ataupun berlayar di atas kapal di lautan bisa menjadi tonjolan yang siap disambar petir.
"Karena sifatnya yang tidak sabaran, saat ada tonjolan, petir akan menyambar semuanya tanpa pilih-pilih."
"Jadi memang tidak mengherankan petir bisa menyambar banyak obyek sekaligus," ungkap Syarif yang aktif mendata aktivitas petir di Indonesia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ilustrasi-petir_20160426_194146.jpg)