Wacana Hapus Ujian Nasional, PGRI Jateng : Kompetensi Anak Tak Bisa Diukur Angka
Rencana penghapusan Ujian Nasional (UN) di Indonesia yang dilontarkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim, mendapat beragam
Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: muh radlis
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Rencana penghapusan Ujian Nasional (UN) di Indonesia yang dilontarkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim, mendapat beragam respons.
Ketua PGRI Jateng, Muhdi, menuturkan setuju dengan kebijakan UN dihapuskan dalam program pendidikan nasional Indonesia.
"Kami sepakat dengan Menteri, tapi tidak semua yang disampaikan merupakan hal baru, karena banyak yang sudah diperjuangkan lebih dulu oleh PGRI, terutama soal ujian nasional dan pendidikan karakter," ucapnya, Senin (9/12/2019).
Pihaknya sepakat dengan pernyataan Menteri Pendidikan yang akan menghapus UN serta mengurangi kegiatan yang menggangu kinerja para guru seperti misalnya urusan administrasi dan UN.
Menurutnya, kompetensi anak tidak bisa diukur dengan angka-angka.
• Warga Cikuya Brebes Protes Aktivitas Tambang Galian C Gunung Bendera, Ratim Sebut Izin di Provinsi
• Kecelakaan KA Kaligung Tabrak Yaris di Kendal, Korban Hendak Hadiri Rapat Pajak Daerah
• PGRI Jateng Sepakat dengan Ganjar Tingkatkan Kesejahteraan Guru Honorer Setara UMK
• Soal Kader yang Ambil Formulir Pendaftaran di DPD PDIP Jateng, Rudy : Ya Wes Ben
Para guru, sejatinya sependapat dan tahu akan hal tersebut, namun mereka dipaksa oleh aturan.
"Sehingga ujung-ujungnya, waktu habis hanya untuk menyiapkan para siswa mendapatkan nilai," tegasnya.
Pokok tugas guru, kata dia, saat ini yakni tugasnya meningkatkan kompetensi dan membentuk karakter.
Sementara, terkait dengan pembelajaran para guru, harus disesuaikan dengan tuntutan zaman.
Muhdi menilai Menteri Pendidikan harus mencari cara untuk melatih guru yang mampu menjangkau seluruh Indonesia dengan memanfaatkan teknologi.
Jika cara daring (online) tidak dilakukan dan teteap menggunakan cara-cara konvensional maka peningkatan kemampuan guru hasilnya tidak akan bisa maksimal.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng, Jumeri, tidak secara gamblang menyatakan setuju atau tidak UN dihapuskan.
Namun, ia menegaskan UN telah banyak menyita energi.
"UN sebagai media evaluasi hasil pembelajaran untuk pemetaan permasalahan pendidikan penting, tetapi UN telah menyita banyak energi dan peserta tidak berjuang maksimal," tuturnya.
Kalau pun dihapus, paling tidak ada pengganti bagaimana untuk menetapkan sistem yang menyatakan lulus terhadap siswa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ketua-pgri-jateng-muhdi-mamduh.jpg)