Jumat, 24 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tanaman Padi Terendam Pasca Hujan, Sudirman Harus Pompa Air 3 kali Sehari

Warga Kalibuntu Kecamatan Kendal Kota Kabupaten Kendal, Sudirman (53), harus berjibaku dalam menyelamatkan bibit tanaman padinya.

Penulis: Saiful Ma sum | Editor: muh radlis
TRIBUN JATENG/SAIFUL MA'SUM
Tanaman bibit padi di Kabupaten Kendal mulai tergenang air pasca dilanda hujan 

TRIBUNJATENG.COM, KENDAL - Warga Kalibuntu Kecamatan Kendal Kota Kabupaten Kendal, Sudirman (53), harus berjibaku dalam menyelamatkan bibit tanaman padinya.

Hal itu disebabkan 75 kilogram biji padi yang disebar dalam 5 hari yang lalu terendam air di musim penghujan ini.

Kata Sudirman, ia pun lantas membawa mesin penyedot air untuk menguras air yang masuk ke dalam petakan sawahnya.

Markas KKB Papua Ditemukan, Semua Anggota Kabur saat Dengar Tembakan Pasukan TNI

Segini Isi Rekening Raja Keraton Agung Sejagat Sinuhun Totok Santoso Hadiningrat 

Wahyu Setiawan Sebut Nama Arief Budiman dan Johan Budi dalam Sidang Dugaan Pelanggaran Kode Etik

Detik-detik Rekaman CCTV Oknum Anggota DPRD Ciamis dan Istrinya Saling Serang

Intensitas curah hujan yang tinggi membuat Sudirman selalu mengecek bibitnya minimal 2 kali sehari.

Setiap tergenang, mesin penyedot yang disiapkan akan dioperasikan semaksimal mungkin.

Dalam sehari ia harus menyedot air yang menggenangi bibit padinya hingga 2-3 kali.

Setiap kali sedotan bisa menghabiskan 4-5 liter.

Hal itu ia lakukan rutin setiap pagi dan sore hari ataupun malam hari jika diperlukan.

"Cuaca kan gak nentu, kebetulan setelah saya nyebar bibit padi, hujan datang.

Persawahan sini mulai tergenang, kebanyakan bibit-bibit terendam, ada yang dibirakan ada yang masih berusaha dengan alat seadanya," terangnya, Kamis (16/1/2020).

Menurutnya, keharusan memompa air perlu dilakukan mengingat calon bibit padi yang siap untuk di tanam harus kokoh.

Katanya, kekokohan batang bibit dipengaruhi oleh panas sinar matahari serta nutrisi yang diberikan agar tidak lembek.

Untuk menjaga kualitas bibitnya, Sudirman selalu memperhatikan batas air yang mengelilingi petakan sawah tempat bibitnya berkembang.

Hal itu dilakukan sejak penyebaran bibit hingga 23 hari kala siap ditanam.

"Kalau gak dipompa (kerusakan) bisa total biji bibit saya bosok gak bisa tumbuh.

Harus dipantau terus sampai waktu tanam, idealnya 23 hari," terangnya.

Katanya, perawatan tanam padi di musim penghujan membutuhkan tenaga dan biaya ekstra.

Hal itu bisa terjadi manakala kebutuhan air melebihi dari yang diperlukan, apalagi menenggelamkan tanaman.

Tak semua orang memiliki mesin penyedot air.

Sebagian dari mereka tampak membiarkan air menggenangi bibit padinya, sebagian lain masih berusaha merawatnya dengan cara menyewa mesin pompa.

Kata Sudirman, bibit padi yang terendam beberapa kali harus mendapatkan perawatan dari pemiliknya.

Kurangnya perawatan bisa jadi menyebabkan bibit tak bisa tumbuh maksimal saat ditanam ulang.

Hal itu beresiko pada tingkat kesehatan bibit hingga produksi padi pada saat dewasanya.

"Kalau ada yang gak diurus pasti ada, soalnya biaya perawatan mahal.

Tetapi kalau sampai gagal juga biaya ganti mahal, 1 kilogram gabah rata-rata Rp 6.000, iya kalau ada bantuan dari dinas, belum masa panen jadi mundur," lanjutnya.

Ia berharap cuaca stabil dalam beberapa hari ke depan sehingga kebutuhan panas matahari dan air tercukupi dengan maksimal.

"Saat musim tanam sudah biasa tani harus kerja ekstra, nanti senang ketika sukses (panen).

Kalau gagal (dalam pembibitan) harus cari cuaca lagi, kalau hujan terus tetap berjuang semampunya.

Cuma kalau kebanjiran terus bisa sulit," ujarnya.

Di kanan kiri Jalan Wonosari tak jauh dari persawahannya terlihat hamparan sawah membentang.

Rata-rata terlihat masih belum tertanami bibit padi.

Tampak petakan-petakan tempat tumbuhnya calon tanaman penghasil gabah itu terendam.

Beberapa mesin pompa sudah tersedia di pojokan petakan sawah.

Para petani juga sudah membentengi bibitnya dengan plastik yang mengelilingi sawah.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kendal, Tjipto Wahjono, menyampaikan setidaknya ada 22 ribu hektare lahan persawahan dari 25 lahan baku yang tersebar di Kabupaten Kendal.

Beberapa wilayah seperti di Kematan Barangsong juga sudah mulai tergenangi air.

Meski dalam konteks relatif aman, pihaknya akan terus memantau perkembangan tanaman dalam hal ini padi agar tetap terjaga tan terawat dengan baik di bawah guyuran hujan.

Pihaknya juga sudah menyiapkan cadangan benih padi dari Cadangan Benih Nasional untuk membantu petani yang tanaman padinya rusak terendam banjir manakala diperlukan.

"Jadi padi itu bukan tanaman air tapi butuh air, terlalu banyak asupan air juga tidak baik bisa busuk dan gagal tumbuh, kurang air juga bisa mati," terangnya.

Mengingat musim hujan tidak bisa diprediksi berakhirnya, Tjipto mengimbau agar para petani lebih intens lagi dalam menjaga dan merawat tanamannya.

Lakukan apa yang bisa dilakukan agar tanaman bisa tumbuh dengan baik.

"Kemungkinan banjir masih bisa datang kapan saja, kita amati dan pantau perkembangannya.

Mudah-mudahan terus aman tidak ada resiko yang besar," jelasnya.

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kendal, Tardi, mengatakan curah hujan yang meninggi sejak akhir Desember 2019 lalu bisa jadi berdampak pada terganggunya proses tanam padi.

Setidaknya ribuan pesawahan padi baru ditanam di wilayah Kendal terancam banjir.

Meliputi pesawahan didaerah dataran rendah seperti kecamatan Kendal Kota, Patebon, dan juga Brangsong. Genangan air nantinya tidak hanya mengganggu pertumbuhan bibit pohon, juga bisa membuat tanaman menjadi busuk dan mati.

"Di Kecamatan Kota Kendal luas pesawahan cukup luas tersebar di beberapa wilayah.

Yang di Patebon wilayah yang terkena banjir berada sebelah utara jalur pantura seperti di Desa Wonosari dan sekitarnya,” terangnya.

Kata Tardi, tanaman padi yang terkena banjir usia 7- 20 hari akan lebih rentan mengalami pembusukan.

Apalagi ketinggian air mencapai 20-30 sentimeter.

“Beberapa sawah di Desa Wonosari, Karangsari, padinya bahkah tenggelam karena kebanjiran, semuanya mulai rusak karena terendam air beberapa hari terakhir," katanya.

Imbas dari rusaknya tanaman padi memungkinkan petani harus menyiapkan stok bibit 2 kali lipat.

Mengambil contoh dari 2.000 hektar sawah saja setidanya dibutuhkan sekitar 60 ton benih padi untuk ditanam.

Ia berharap pemerintah kabupaten melalui dinas terkait terus memperhatikan hal tersebut khususnya akibat yang bisa saja berdampak kerugian bagi petani.

"Kalau nanti banyak yang terkena imbasnya, paling tidak dinas bisa membantu menyediakan bantuan benih untuk mengurangi beban para petani," lanjutnya. (Sam)

Yuk ke Gerai Wakai di Mal Ciputra Semarang, Ada Promo 10 Persen untuk Produk New Arrival

Pengedar Sabu Ditangkap di Kedungwuni Pekalongan, Samsul Tak Sadar Jadi Bidikan Polisi

Viral Foto Pria Bersenjata Api Kendarai Honda Jazz Pepet Mobil Pikap, Ini Fakta Versi Polres Brebes

Batang Jadi Pusat Pelatihan Tenaga Kerja Bidang Kemaritiman

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved