Kamis, 11 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Opini Tasroh: Depresi Sosial, Hidup Dalam Seolah-olah

Maklumat sang raja pun dengan khidmat didengar dengan saksama oleh para prajurit yang mendeklarasikan sebuah seruan bahwa baginda raja adalah raja agu

Tayang:
Editor: m nur huda
Bram
Tasroh 

Opini ditulis oleh: Tasroh, S.S.,MPA,. MSc

(Alumnus Ritsumeikan Asia Pacific University, Japan)

"Mereka tidaklah gila, tetapi hanya belum dipahami sesamanya. Mereka hanya sedang bermimpi dan hidup dalam kehidupan seolah-olah" ( Nietsze, 1844)."

Sosok berseragam usia pensiunan itu duduk megah dengan back dropp yang mentereng didampingi sang permaisuri yang dipermak bak dandanan raja-ratu khas era primitif, raja diraja di zaman bahiela. Sepasukan dengan seragam mencolok pula berbaris bak menunggu titah sebelum sang raja bertitah.

Sidang pembacaan maklumat pun sesaat berkumandang yang dibacakan langsung sang baginda diraja.

Maklumat sang raja pun dengan khidmat didengar dengan saksama oleh para prajurit yang mendeklarasikan sebuah seruan bahwa baginda raja adalah raja agung sejagat, yang tidak hanya menguasai ( dan berkuasa atas suatu wilayah berdasarkan hukum sejarah yang ia yakini), wilayah lokal kedaerahan an sich; bahkan meyakini dimandati oleh mimpinya sendiri bahwa sang raja dan permaisurinya adalah titisan elite kerajaan besar nusantara yang ditugasi oleh romantisme sejarah untuk memerintah dunia.

Maka lahirlah pidato sabda raja bahwa dirinya adalah raja diraja yang akan memimpin dunia sejagat. Penguasa dunia Amerika dan Tiongkok pun disebut sebagai wilayah kerajaan agung sejagat yang kelak patuh dan tunduk pada kehendak sang raja yang belakangan viral di berbagai media yakni kerajaan agung sejagat yang berlokasi di sebuah kampung di Purworejo, Jawa Tengah.

Kisah penuh kultural emosional itu, ternyata tak hanya terjadi di Purworejo, di wilayah Jawa Barat pun setali tiga uang. Seorang dengan seragam layaknya pimpinan sebuah parpol dengan gagah berani berpidato mengeluarkan maklumat dengan pengikutnya bahwa ia dan para pengikutnya adalah raja dari sebuah diraja yang disebutnya sebagai "Sunda Empire".

Kerajaan tersebut juga mengklaim bahwa dirinya dan para pengikut adalah utusan dewa yang diperintahkan oleh sejenis " merkayangan" untuk memgatur dunia ini dimana ranah Sunda adalah penguasa dunia. Dalam pidato sang raja juga terdengar sabda bahwa dunia adalah miliknya dan suku Sunda adalah penguasa dunia ( the empres).

Dua kasus yang disebut filsuf Jerman Frederich Nietzse (1844) sebagai " depresi sosial" itu baru diketahui setelah usainya perang dunia ke-2, yakni ketika Jerman akhirnya harus menelan pil pahit kekalahan telak dibawah kepemimoinan sang diktatir, Nazi, Hitler, setelah hampir seabad sukses menguasai dunia.

Apa yang terjadi di dua daerah di Indonesia yakni di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat ( dan bukan tidak mungkin masih banyak yang muncul karena belum diviralkan media sosial--red), seperti sedang mempertontonkan satirisme sekalugus lawakan Srimulat yang menyadarkan kita semua, mentertawakan kita semua karena " hare gene" ternyata masih banyak berkecamuk dalam benak mimpi dan laku sosial kita, sekelompok warga yang hidup dalam "seolah-olah", yakni hidup dalam dunia imajiner, rekaan, fiksi dan halusinasi.

Mereka hidup seolah-oleh sedang dalan waktu bahoela, di jaman batu nan primitif sehingga siapa pun sesuai mimpinya sendiri mengklaim sebagai raja diraja, penguasa atas suatu kekuasaan dan seolah-olah memperlakukan dirinya sendiri memiliki kekuasaan untuk memerintah sebuah kaum, umat dan rakyat jelata yang butuh teladan yang mampu memberikan kepastian menggapai hidup.

Maka untuk menegaskan itu semua mimpi itu direnda dengan balutan "penipuan" yang emosional sehingga para pengikutnya seperti sedang digendam: mengikuti sabda sang bagianda raja bahkan untuk menyerahkan harta benda hingga nyawa. Pungutan liar untuk dan atas nama "ubo rampai" seauai jabatan dalam kerajaan pun kemudian bermetamorfosis dengan materialisme-kapitalisme sehingga jabatan-jabatan dalam kerajaan pun harus ditebua-bayar hingga puluhan juta.

Seolah-olah sedang berburu "lelang jabatan" di era milenial yang faktanya juga harus membayar sejumlah uang bagi yang akan menduduki Jabatan birokrasi, untuk dan atas nama mendapatkan jabatan di kerajaan "seolah-olah" itu pun tak kuasa menerima titah sang raja. Itu semua sejatinya adalah apa yang disebut pakar sosiologi pembangunan, Arif Budiman (1998) sebagai Depresi sosial yakni sakit jiwa dan mental akut secara kolektif yang digalang dengan simbil-simbol sesuai jaman".
Satirisme Kolektif

Depresi sosial, (meskipun banyak pendapat pakar dinyatakan tidak ada masalah atau tak mengganggu sistem sosial kita--red), hemat penulis justru lebih berbahaya ketimbang apa yang dilakukan para teroris atau kaum separatisme sekalipun.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved