Breaking News:

Opini Tasroh: Depresi Sosial, Hidup Dalam Seolah-olah

Maklumat sang raja pun dengan khidmat didengar dengan saksama oleh para prajurit yang mendeklarasikan sebuah seruan bahwa baginda raja adalah raja agu

Editor: m nur huda
Bram
Tasroh 

Opini ditulis oleh: Tasroh, S.S.,MPA,. MSc

(Alumnus Ritsumeikan Asia Pacific University, Japan)

"Mereka tidaklah gila, tetapi hanya belum dipahami sesamanya. Mereka hanya sedang bermimpi dan hidup dalam kehidupan seolah-olah" ( Nietsze, 1844)."

Sosok berseragam usia pensiunan itu duduk megah dengan back dropp yang mentereng didampingi sang permaisuri yang dipermak bak dandanan raja-ratu khas era primitif, raja diraja di zaman bahiela. Sepasukan dengan seragam mencolok pula berbaris bak menunggu titah sebelum sang raja bertitah.

Sidang pembacaan maklumat pun sesaat berkumandang yang dibacakan langsung sang baginda diraja.

Maklumat sang raja pun dengan khidmat didengar dengan saksama oleh para prajurit yang mendeklarasikan sebuah seruan bahwa baginda raja adalah raja agung sejagat, yang tidak hanya menguasai ( dan berkuasa atas suatu wilayah berdasarkan hukum sejarah yang ia yakini), wilayah lokal kedaerahan an sich; bahkan meyakini dimandati oleh mimpinya sendiri bahwa sang raja dan permaisurinya adalah titisan elite kerajaan besar nusantara yang ditugasi oleh romantisme sejarah untuk memerintah dunia.

Maka lahirlah pidato sabda raja bahwa dirinya adalah raja diraja yang akan memimpin dunia sejagat. Penguasa dunia Amerika dan Tiongkok pun disebut sebagai wilayah kerajaan agung sejagat yang kelak patuh dan tunduk pada kehendak sang raja yang belakangan viral di berbagai media yakni kerajaan agung sejagat yang berlokasi di sebuah kampung di Purworejo, Jawa Tengah.

Kisah penuh kultural emosional itu, ternyata tak hanya terjadi di Purworejo, di wilayah Jawa Barat pun setali tiga uang. Seorang dengan seragam layaknya pimpinan sebuah parpol dengan gagah berani berpidato mengeluarkan maklumat dengan pengikutnya bahwa ia dan para pengikutnya adalah raja dari sebuah diraja yang disebutnya sebagai "Sunda Empire".

Kerajaan tersebut juga mengklaim bahwa dirinya dan para pengikut adalah utusan dewa yang diperintahkan oleh sejenis " merkayangan" untuk memgatur dunia ini dimana ranah Sunda adalah penguasa dunia. Dalam pidato sang raja juga terdengar sabda bahwa dunia adalah miliknya dan suku Sunda adalah penguasa dunia ( the empres).

Dua kasus yang disebut filsuf Jerman Frederich Nietzse (1844) sebagai " depresi sosial" itu baru diketahui setelah usainya perang dunia ke-2, yakni ketika Jerman akhirnya harus menelan pil pahit kekalahan telak dibawah kepemimoinan sang diktatir, Nazi, Hitler, setelah hampir seabad sukses menguasai dunia.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved