Tribun Community
Komunitas : Sahabat Tenggang Semarang Himpun Relawan dari Kalangan Mahasiswa
Berkecimpung dalam aktivitas di bidang sosial membutuhkan hati yang ikhlas dan semangat berbagi.
Penulis: Ines Ferdiana Puspitari | Editor: Catur waskito Edy
“Saya bisa dibilang sebagai anak rumahan, dulu memang jarang keluar rumah. Pas awal saya berkuliah, jauh dari rumah, tahun 2015-2018 itu kegiatan saya masih sekitaran kuliah, dan kalo libur pulang rumah.
Tapi mulai akhir 2018, setelah sudah tidak ada tanggungan mata kuliah lagi, saya berkeinginan cari kegiatan-kegiatan di luar perkuliahan.
Akhirnya sering terlibat dalam kegaitan volunteer. Salah satunya di Sahabat Tenggang, di sini saya bisa lebih peduli dengan lingkungan sosial dan permasalahannya, terutama di bidang pendidikan,” tutur alumnus Universitas Wahid Hasyim itu.
Sementara itu, Raeda Nur Lailani mulai bergabung dengan komunitas Sahabat Tenggang Semarang di tahun 2018.
Ia tertarik untuk bergabung karena ada ketertarikan di bidang kegiatan sosial.
Selain itu, awalnya hanya untuk mengisi waktu luang saja selain kuliah, tetapi ternyata di Sahabat Tenggang ini bisa menjadi tempat untuk belajar banyak h
• BERITA LENGKAP: Satu Pasien Corona di Solo Meninggal dan yang Terinfeksi Corona Naik 2 Kali Lipat
• WAWANCARA: Cucu Pangeran Diponegoro tentang Keris Nogo Siluman Diponegoro
• Kompas TV Resmi Siarkan Kompetisi Liga 2 2020
al.
“Yang awalnya cuma iseng gabung aja, justru buat aku jadi semakin belajar, buat harus banyak bersyukur.
Belajar ikhlas dan berbagi. Juga belajar bagaimana mengurus adik-adik yang kondisinya aktif dengan karakter yang berbeda. Lalu, tentunya aku jadi dapat teman baru,” katanya.
Baginya pada setiap pengajaran yang dilakukan bersama Sahabat Tenggang Semarang akan menjadi cerita menarik.
Yang berkesan bahwa seluruh relawan membuat acara untuk anak-anak dengan dana yang minim, tetapi sebisa mungkin diupayakan tetap mengutamakan kebahagiaan anak-anak.
Pasti akan ada perasaan senang dan berkesan ketika melihat anak-anak senang setelah acara yang diselenggarakan.
“Terus aku juga menjadi lebih peduli ke orang dan lingkungan sekitar. Dengan berinteraksi seperti ini juga bisa makin memahamai pola hubungan antara krisis moral dan korban pola asuh orang tua untuk anak-anak.
Jadi ini membuat saya terpacu untuk membangun komunikasi yang lebih terbuka dan ingin belajar lebih lagi tentang hal-hal tersebut,” lanjutnya. (ifp)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/komunitas-sahabat-tenggang-semarang.jpg)