Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Wabah Virus Corona

Efektifkah Polisi Bubarkan Kerumunan Warga Cegah Penyebaran Virus Corona? Ini Kata Antropolog Undip

Setiap malam di Kota Semarang seluruh jajaran Polsek di Polrestabes Semarang terjun ke titik-titik keramaian untuk membubarkan kerumunan warga.

Penulis: iwan Arifianto | Editor: muh radlis
IST
Ketua Prodi Antropologi FIB Undip Dr. Amirudin, MA 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Setiap malam di Kota Semarang seluruh jajaran Polsek di Polrestabes Semarang terjun ke titik-titik keramaian untuk membubarkan kerumunan warga.

Langkah tersebut diambil menindaklanjuti dari maklumat Kapolri sebagai upaya pencegahan penyebaran covid-19.

Tentu yang digaungkan dari kebijakan itu adalah saling menjaga jarak atau social distancing.

Sudjiwo Tedjo Minta Presiden Jokowi Cuti dan Maruf Amin Pimpin Lawan Virus Corona, Ini Alasannya

Pertama Kali di Jateng, 2 Pasien Positif Virus Corona Dinyatakan Sembuh, Ganjar : Ini Kabar Baik

Kini Jadi Negara dengan Pasien Corona Terbanyak, Amerika Sempoyongan Hingga Minta Bantuan Korsel

Presiden Jokowi Pecat Evi Novida Sebagai Komisioner KPU, Ini Penyebabnya

Lantas apakah upaya tersebut akan efektif di tengah masyarakat yang memiliki budaya kumpul atau nongkrong.

Ketua Prodi Antropologi FIB Undip Dr. Amirudin, MA menjelaskan langkah yang diambil kepolisian dalam ketegasan membubarkan kerumunan sudah bagus.

Namun sebelum membahas lebih jauh, Amir ingin menerangkan kondisi sosial budaya masyarakat terlebih dahulu.

Menurutnya, terdapat hal unik dari masyarakat Indonesia pada umumnya, sekalipun sama-sama telah berada di era modern tetap saja cara berpikirnya tidak selalu pararel dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Secara sosial-budaya, logisnya, cara berpikir masyarakat idealnya beranjak ke tingkatan rationale model yang pola perilakunya terbimbing oleh cara berpikir yang rasional, bertujuan, efisien, efektif, sakit atau sehat, berisiko dan tak berisiko.

"Khususnya menghadapi covid-19 ini, seharusnya cocok jika masyarakat dihalau dengan model berpikir rasional seperti ini," paparnya saat dihubungi Tribun Jateng, Kamis (26/3/2020).

Dikatakan Amir, namun tetap saja tidak semua cara berpikir yang rasional ini bisa masuk menjadi bagian dari struktur terdalam (deep structure) pikiran kolektif.

Sejauh ini model berpikir semacam ini hanya berkembang di kalangan elite bangsa ini saja yakni para kelas menengah yang berpendidikan dan berpendapatan mapan.

"Susah mengharapkan seluruh masyarakat memiliki cara berpikir epidemiology model sebagaimana yang dibayangkan kaum rasionalis," bebernya.

Amir menerangkan secara antropologis, sepertinya masih terasa kuat sekali cara berpikir magico-religio model sebagai lawan dari rationale model.

Masyarakat masih meyakini bahwa wabah apapapun bentuknya bukan karena peristiwa epidemiologi, tetapi selalu dikaitkan dengan peristiwa kemarahan yang suprantural dengan perlakukan eksploitatif manusia terhadap alam dan sesama.

Bagi mereka wabah adalah ujian, akan berakhir jika Sang penguji menghentikannya kembali.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved