Berita Regional

Muncul Sinyal Tanda Bahaya di Laut Indonesia Gegerkan SAR Dunia, Pencarian hingga 7 Jam

Sinyal tanda bahaya terus-menerus diterima Tim Pencarian dan Pertolongan (SAR) Kelas B Pangkalpinang dari perairan Bangka.

Editor: m nur huda
Dok. Tim SAR
Tim SAR temukan alat yang bisa mengirimkan sinyal tanda bahaya di Kepulauan Bangka Belitung. 

TRIBUNJATENG.COM - Sinyal tanda bahaya terus-menerus diterima Tim Pencarian dan Pertolongan (SAR) Kelas B Pangkalpinang dari perairan Bangka.

Tercatat 17 kali sinyal tersebut memancar hingga membuat tim melakukan pencarian.

Ternyata sinyal tersebut tak hanya diterima Badan SAR Nasional (Basarnas), melainkan juga tim SAR di berbagai negara.

Apabila tak segera dikonfirmasi, tentu kondisi tersebut bakal menggegerkan SAR Internasional.

Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun! Mantan Panglima TNI Djoko Santoso Meninggal

Kabur dari Jakarta, PDP Corona Ini Mudik ke Banyumas, Kini Dinyatakan Positif Covid-19

Viral Video Gubernur Ganjar Minta Sekda Blora Mundur, Ada Apa?

Kisah Kesedihan Orangtua ABK yang Jenazahnya Dilarung dari Kapal China Tanpa Persetujuan Keluarga

 

Pencarian tujuh jam

Menggunakan armada KN Karna 246, tim melakukan penyisiran di sekitar titik koordinat sumber sinyal darurat.

Setelah tujuh jam pencarian, akhirnya tim menemukan alat pelontar sinyal yang berbentuk kotak hitam tersebut.

Ternyata tak ada hal yang membahayakan di sekitar koordinat 1°45.168'S 107°10.412'E itu.

"Sebelumnya Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas B Pangkalpinangmenerima sinyal distress pada 6 Mei 2020 pukul 12.00 WIB, dengan jumlah notifikasi berkelanjutan sebanyak 17 kali yang dimulai dari pukul 11.59 hingga 17.08 WIB," kata Kepala Kantor SAR Pangkalpinang Fazzli dalam keterangan tertulis, Sabtu (9/5/2020).

Ilustrasi kapal tanker.
Ilustrasi kapal tanker. (SHUTTERSTOCK)

Diduga alat pelontar sinyal sengaja dibuang

Setelah dilacak, alat berjenis Emergency Position-Indicating Radio Beacon (EPIRB) tersebut ternyata berasal dari kapal SC Eternity XLVII-LPG Tanker milik PT Sukses Inkor Maritim.

"Selanjutnya tim mematikan perangkat tersebut dan balik ke dermaga," ujar Fazzli.

Dalam penyelidikan, diduga bahwa kotak hitam itu sengaja dibuang karena diganti dengan alat yang baru.

"Mereka membawa 2 unit EPIRB. Selajutnya EPIRB yang lama diganti dengan EPIRB yang baru dan yang lama dibuang ke laut. Seketika itu Basarnas mendapatkan notifikasi terus-menerus mengenai distress alert," kata dia.

Bisa dijerat sanksi

Kejadian serupa ternyata juga terjadi beberapa waktu sebelumnya.

Saat itu alat berasal dari kapal kargo yang melintas menuju Australia.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved