OPINI
OPINI Haris Zaky Mubarak : Pasar Tradisional Era New Normal
Munculnya inisiatif kebijakan Kenormalan Baru (New Normal) pasca pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) memberi banyak perubahan bagi ru
Selain itu ada upaya kebijakan pengaturan pungutan atas pasar yang diterapkan oleh Hindia Belanda untuk program membersihkan sampah, ada istilah uang sapon atau pesapon yang harus dibayar oleh setiap pedagang sebesar ½ sampai 1 sen kepada tukang sapu yang sekaligus bertindak sebagai penjaga pasar (1909 : 219). Eksistensi pasar-pasar tradisional di Kota Semarang saat itu menunjukkan perkembangan dan pertumbuhan yang sangat berarti sejak pemberlakuan regulasi atau peraturan baru yang dibuat pemerintah Hindia Belanda.
Sistem penataan dan aturan pembiayaan pasar dalam masa lalu menunjukkan kepada kita bahwa perhatian pemerintah kolonial terhadap pasar domestik demikian besar, sekalipun tak bisa diingkari bahwa kepentingan penguasa kolonial juga terlibat didalamnya. Efektivitas regulasi pasar tradisional yang ketat membuat masyarakat kolonial dan pribumi mampu menikmati kebutuhan berbelanjanya pada sebuah pasar tradisional.
Akomodasi Kebutuhan
Kehadiran perkembangan pasar tradisional dalam sejarah masa kolonial boleh saja menghadirkan imaji adapatasi transformasi penataan yang sangat pokok terhadap eksistensi pasar tradisional hari ini. Dimana pasar tradisional dalam setiap masa memiliki kenyataan mendasar untuk selalu mengakomodasi perilaku adaptasi yang kuat dari tuntutan zaman.
Sebuah pasar tradisional dapat saja mengalami gerak modernisasi perubahan yang dominan jika kemudian ada kepentingan kebutuhan baru yang juga turut menyertainya. Fase kenormalan baru (New Normal) yang kita hadapi saat ini dengan aturan ketat protokol kesehatan dapat saja menjadi visi baru yang kemudian memandu perubahan perilaku banyak orang di Indonesia untuk mulai mengadaptasi beragam pola keadaan yang berubah akibat pandemi Covid-19.
Kebiasaan baru orang berbelanja dengan menggunakan masker dan sarung tangan di pasar tradisional dapat saja kita lihat sebagai bentuk kesadaran baru masyarakat dalam implementasi berbelanja secara sehat. Hal semacam ini dapat juga menjadi daya tarik baru terhadap minat berbelanja kita di pasar tradisional ditengah kerasnya persaingan eonomi dengan pasar - pasar modern seperti Mall, Plaza, dan toko online. Semoga saja dengan mengakomodasi banyak kebutuhan zaman, pasar tradisional Indonesia terus dapat eksis sepanjang waktu. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/haris-zaky-mubarak-ma.jpg)