Breaking News:

PKM Semarang

PKM Semarang Jilid 4 Mulai 22 Juni, Acara Pernikahan Dilonggarkan, Ini Ketentutannya

PKM Semarang jilid 4 terdapat pelonggaran. Di antaranya pelonggaran acara pernikahan semula dibatasi 30 orang, pada PKM jilid 4 mengalami pelonggaran.

Tribun Jateng/Idayatul Rohmah
Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi saat jumpa pers di Balaikota Semarang, Sabtu (20/6/2020). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Hendrar Prihadi selaku Walikota Semarang menyatakan PKM jilid 4 akan diberlakukan. Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) jilid 4 dimulai pada Senin, 22 Juni dan berakhir pada 5 Juli 2020.

Pria yang akrab disapa Hendi menerangkan, pada penerapan PKM Semarang jilid 4 terdapat pelonggaran.

Di antaranya pelonggaran kegiatan pernikahan yang semula dibatasi 30 orang, pada PKM Semarang jilid 4 mengalami pelonggaran.

"Mulai hari Senin, (22/6/2020) kegiatan pembatasan pernikahan itu dibatasi maksimal dari kapasitas ruangan 50 persen. Sebanyak-banyaknya 50 orang," ujarnya kepada awak media di lobi Balaikota Semarang, Sabtu, (20/6/2020) sore.

PKM Semarang Diperpanjang hingga 5 Juli, Tempat Wisata Boleh Dibuka dengan Syarat

PKM Semarang Diperpanjang Lagi 14 Hari Mulai 22 Juni, Tapi Ada Pelonggaran untuk Tempat Hiburan

Foto-foto Kunjungan Panglima TNI dan Kapolri di Mal Semarang, Semua Sesuai SOP

Update Corona 20 Juni di Indonesia Masih Terus Bertambah: Jateng 98 Kasus Baru, Jatim 395 Kasus

Mengenai pembatasan pernikahan, Hendi mencontohkan seumpama pernikahan itu berlangsung di sebuah masjid yang berkapasitas 50 orang, maka orang yang hadir 25 orang.

"Tapi kalau dia menikah di masjid atau di gereja dengan kapasitas 1.000 orang, dia boleh menyelenggarakan pernikahan dengan maksimal 50 orang," katanya menambahkan.

Dia berharap perubahan tersebut bisa secara perlahan membuat masyarakat melakukan hal-hal yang terkait pandemi corona.

"Tidak usah ragu menjalankan aktivitas sepanjang SOP kesehatan diberlakukan," pesannya.

Selain melonggarkan penyelenggaraan pernikahan, Hendi juga meminta masyarakat tidak terkotak-kotak pada asumsi kalau medis lebih penting dari ekonomi atau sebaliknya.

"Orang mengatakan, medis tidak penting, itu keliru. Pada saat kita sehat, kita bisa menjalankan apa pun. Orang mengatakan, ekonomi tidak perlu, itu juga keliru. Pada saat dia sehat, dia tidak bisa bekerja, dia tidak punya uang, dia gak makan, dia akan meninggal juga,"

Saat ini, kata Hendi, tidak boleh membedakan penting mana antara medis dan ekonomi. Dia menegaskan kedua hal itu sama-sama penting.

"Semua harus berjalan beriringan," tegasnya.

Dia menyampaikan saat ini upaya pemerintah adalah terus menyadarkan agar masyarakat menerapkan SOP kesehatan.

"Jangan sampai menyepelekan apa yang namanya pakai masker. Kesadaran seperti itu yang menjadi sasaran tim patroli," pungkasnya.(yun)

Cerita di Balik Jembatan Gantung Pemicu Adrenalin di Colomadu

Viral Denda Minimal Rp 250 Ribu Saat Razia Masker di Kendal, Ini Penjelasan Pemkab

Wisata Air Owabong Purbalingga Gelar Simulasi New Normal

10 Tahun Vakum, Sarah Azhari Sering Dapat DM Foto Seksi dari Netizen Tak Dikenal

Penulis: Muhammad Yunan Setiawan
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved