Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Jawa Tengah

Harga Kapulaga Tembus Rp 250 Ribu Per Kilogram, Petani Banjarnegara Mendulang Untung

Tanaman rempah lain, semisal kapulaga pun ikut diburu konsumen hingga harganya melonjak.

Penulis: khoirul muzaki | Editor: M Syofri Kurniawan
Tribun Jateng/Khoirul Muzaki
Petani Desa Prendengan Banjarnegara memperlihatkan rumpun tanaman Kapulaga di lahan. 

TRIBUNJATENG.COM, BANJARNEGARA - Di masa pandemi Covid-19 ini, tanaman rempah jadi salah satu komoditas yang diburu masyarakat karena dipercaya memiliki banyak khasiat untuk kesehatan.

Ini membuat harganya melejit.

Bukan hanya jahe saja yang harganya melambung di masa pandemi.

Pernyataan Resmi Nella Kharisma Soal Cak Malik Bukan Suaminya: Gak Eruh Tapi Kemeruh

Biodata Rizky Billar, Sosok Viral di Balik Pernikahan Dinda Hauw dan Rey Mbayang

Viral Pemotor di Depok Hadang Ambulans yang Bawa Pasien, Tak Terima Tersenggol

AKBP Cristian Tobing Instruksikan Polisi Cegat Demonstran Wonogiri Tujuan Klaten Aksi Ganyang PKI

Tanaman rempah lain, semisal kapulaga pun ikut diburu hingga harganya melonjak.

Di lereng gunung Pawinihan, Desa Prendengan, Kecamatan Banjarmangu, Banjarnegara, tanaman itu tumbuh subur.

Entah sejak kapan mulai ada, petani di wilayah itu sudah menanamnya turun menurun.

Hanya sejak masifnya penanaman bibit salak, tanaman kapulaga menjadi tersisihkan.

Salak dinilai lebih menjanjikan ketimbang komoditas lain yang biasa ditanam di dataran tinggi itu.

Tanaman kapulaga tetap ditanam, namun hanya untuk selingan tanaman salak atau sistem tumpangsari.

Petani tak begitu memerhatikan tanaman ini karena ada komoditas lain yang lebih menjanjikan.

Petani Kapulaga dari Desa Prendengan Darsono mengatakan, normalnya ia menjual buah Kapulaga kering ke tengkulak seharga Rp 50 ribu per kilogram.

"Biasanya Rp 40-50 ribu per kilogram,"katanya (11/7)

Tapi belakangan ini petani dibuat kaget.

Harga komoditas itu terus merangkak naik, terutama di masa pandemi Covid-19.

Ia sendiri tak tahu musabab harga Kapulaga naik signifikan.

Dari Rp 50 ribu per kilogram terus naik hingga kini harga komoditas itu mencapai Rp 250 ribu per kilogram.

Ia mengaku baru kali ini harga Kapulaga bisa menembus angka tersebut.

Tak ayal, petani sepertinya pun sangat diuntungkan dengan tingginya harga komoditas itu.

Sayang, Darsono hanya punya beberapa rumpun tanaman Kapulaga yang dia tanam di sela tanaman salak.

Karenanya, ia hanya panen sedikit kapulaga, sekitar 4 kilogram kapulaga kering.

Begitupun petani lain di desanya.

Mereka hanya menanam kapulaga untuk selingan tanaman pokok di lahannya.

"Harganya tinggi, tapi barangnya langka,"katanya

Darsono mengatakan, mengetahui keuntungan yang menjanjikan itu, kini sebagian petani di desanya mulai ramai-ramai menanam bibit kapulaga di lahannya.

Terlebih saat ini salak bukan lagi menjadi komoditas menjanjikan karena harganya yang kerap anjlok hingga petani merugi.

Ia pun berharap, harga Kapulaga tetap tinggi saat musim panen mendatang.

Sehingga kesejahteraan petani terangkat.

Kapulaga, menurut dia, bisa dipanen tiap 2,5 bulan sekali.

Usai dipanen, kapulaga dijemur lalu dijual dalam bentuk kering. (aqy)

Epidemiolog: Indonesia Masuk Fase Berbahaya

Jennifer Lopez Bersepeda Pakai Baju Renang, Intip yuk!

Bocah 7 Tahun Tewas Terpanggang, Terjebak di Rumah yang Terbakar karena Obat Nyamuk

Sekelompok Anak Muda Temukan Koper Berisi Mayat saat Main TikTok di Tepi Pantai

Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved