Jumat, 17 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Covid-19 Terus Mengancam, Inggris Masuk Masa Resesi dan Selandia Baru Kembali Lockdown

Ekonomi Inggris mengalami kemerosotan terbesar dalam periode April hingga Juni akibat karantina wilayah untuk menekan penyebaran virus corona

Via Kompas.com
Ilustrasi Resesi Ekonomi 

TRIBUNJATENG.COM, LONDON - Ekonomi Inggris mengalami kemerosotan terbesar dalam periode April hingga Juni akibat penerapan aturan karantina wilayah untuk menekan penyebaran virus corona, keadaan yang menyebabkan negara itu resmi mengalami resesi.

Perekonomian Inggris menyusut 20,4 persen dibandingkan dengan tiga bulan pertama tahun ini.

Pengeluaran rumah tangga anjlok karena toko-toko diperintahkan untuk tutup, sementara produksi pabrik dan konstruksi juga turun.

Kondisi itu mendorong Inggris masuk dalam kondisi resesi pertamanya secara teknis- yang didefinisikan sebagai penurunan ekonomi dua kuartal berturut-turut - sejak 2009.

Suasana Duka Selimuti Kediaman KH Ahmad Naqib Noor AH di Semarang

Mengapa Malam Ini Wilayah Jateng dan Yogyakarta Diguyur Hujan? Ini Jawaban BMKG

Kapolresta Solo Kombes Pol Andy Rifai Diganti, Kini Dijabat Mantan Dirreskrimsus Polda Lampung 

Sosok Habib Umar Assegaf Korban Pengeroyokan di Solo, Farid: Tapi Bukan Habib yang dari Bangil

Kantor Statistik Nasional (ONS) Inggris mengatakan ekonomi bangkit kembali pada bulan Juni karena aturan pembatasan pergerakan yang diterapkan pemerintah mulai berkurang.

Sektor perhotelan adalah yang paling terpukul.

Jonathan Athow, deputi ahli statistik nasional untuk statistik ekonomi, mengatakan ekonomi mulai bangkit kembali pada bulan Juni dengan pembukaan kembali toko, pabrik mulai meningkatkan produksi, dan proses pembangunan perumahan rumah terus pulih.

"Meskipun begitu, produk domestik bruto (PDB) pada bulan Juni masih satu per enam di bawah level Februari, sebelum wabah virus corona menyerang."

Sektor jasa merosot

ONS mengatakan penurunan di sektor jasa didorong oleh penutupan toko, hotel, restoran, sekolah dan bengkel mobil.

Sektor jasa, yang menggerakkan empat perlima ekonomi Inggris, mengalami penurunan terbesar dalam catatan dalam satu kuartal.

Sektor perhotelan juga terpukul parah, sementara penutupan pabrik mengakibatkan produksi mobil yang paling lambat sejak 1954.

Rishi Sunak, Menteri Keuangan Inggris, mengatakan kemerosotan ekonomi akan menyebabkan lebih banyak orang kehilangan pekerjaan dalam beberapa bulan mendatang.

"Ratusan ribu orang telah kehilangan pekerjaan mereka, dan sayangnya dalam beberapa bulan mendatang akan lebih banyak lagi yang kehilangan pekerjaan."

"Tapi sementara ada pilihan sulit yang harus dibuat di masa depan, kita akan melalui ini, dan saya meyakinkan orang-orang bahwa tidak ada yang akan ditinggalkan tanpa harapan atau kesempatan," jelas dia.

Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved